Qana'ah


Oleh: Inku Hikari

"Hidup berdasarkan kebutuhan lebih ringan dan menenangkan, dibandingkan hidup atas dasar keinginan."
-Inku Hikari-



Hutang memang memberatkan, lilitannya keras mencekik leher. Saya memabayangkan berat beban yang harus dipikul orang berhutang yang tidak mampu membayarnya. Padahal Rasulullah SAW sudah mewanti-wanti umatnya tentang masalah yang besar ini.

Hutang bukan hal sepele, sekecil apapun jumlah yang dipinjam. 

“ Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham .” (HR. Ibnu Majah).

Itulah hari ketika dinar dan dirham tidak berlaku. 

Jika saja kita mau memikirkannya, kita pasti rela mengalahkan keinginan untuk memiliki sesuatu dengan cara berhutang.

Mari belajar dari generasi terbaik, mereka orang yang sangat pandai mengendalikan keinginan.
Tidak sulit bagi Abu Ubaidah untuk bermegah-megah, dia Gubernur Syam, wilayah yang subur dan kaya pada masanya. Gajinya lebih dari cukup. Tidak sulit bagi Abu Ubaidah untuk hidup nyaman.

Namun kenyataan itu tidak kita dapati, Umar menangis terharu melihat kesederhanaan Abu Ubaidah.
Qana'ah terhadap dunia menjadi ciri generasi panutan sepanjang masa. Mereka mencukupkan diri dengan kurma dan roti kering yang dicelupkan ke air. 

Abdurrahman bin Auf, harta ditangannya menjadi penuh keberkahan. Dia saudagar kaya yang hatinya tidak tergadaikan oleh dunia. Lihat bagaimana dia bersikap dan berpenampilan! Tak bisa dibedakan dengan pelayannya.

Sementara kita di hari ini seperti orang kebanyakan, mempersulit diri karena memiliki keinginan yang melampaui batas kebutuhan.

Terus berjibaku memeras kerigat untuk membayar hutang dan hidup dalam lingkaran cicilan.
Rumah yang lama masih dalam keadaan layak, tapi kita ingin yang lebih besar, lebih indah, padahal kita tidak membutuhkannya.

Mobil yang dulu masih bisa digunakan, anak pun belum bertambah, tapi kita ingin merasakan nikmatnya mobil keluaran terbaru. Lantas mulailah berhutang demi kemewahan yang sebenarnya tidak sesuai kebutuhan.

Bekerja membanting tulang sampai remuk redam karena mengejar target membayar hutang sekaligus memenuhi hajat hidup.

Padahal jika qana'ah kita miliki, hidup akan terasa lebih ringan dan menenangkan.

Sampai kapan kita akan terus terjebak dalam kondisi ini? Al-Qur'an menggambarkannya dengan sangat indah.

“ Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). ” (QS. At Takatsur: 1-8).

Rumput Tetangga Tak Selalu Lebih Hijau

Aira bersungut-sungut, tubuhnya terasa remuk. Pagi dia sibuk mengurus anak, siang hari berkutat dengan pekerjaan dapur, sementara di malam hari tidak juga bisa istirahat karena membantu anak mengerjakan PR.
Kemana suaminya? Ada di pulau seberang, berkutat menguras keringat demi mencari sesuap nasi. Sebulan sekali suaminya pulang, itu pun tidak lama. Hanya tiga atau empat hari menginap lalu kembali ke tempat kerja.

Setiap kali Aira mengintip jendela, ada kesedihan yang terselip. Melihat rumah nan megah di sebrang jalan. Aira berandai-andai, senangnya menjadi nyonya rumah di sana. Ada suami yang selalu mendampingi, semua kebutuhan terpenuhi, pembantu yang selalu siap bekerja, dan khayalan-khayalan lainnya.

Sementara itu di waktu yang sama, nyonya rumah berpenampilan glamor juga sedang mengintip iri ke arah rumah Aira. Matanya sembab berkantung, sudah semalam suntuk tidak tidur. Dia menangis tanpa henti. Dunia seperti hancur berkeping-keping saat mendapati handphone suaminya penuh SMS mesra.
“Lebih baik miskin kayak tetangga di seberang, mungkin kalau miskin dia tidak akan berkhianat.”

Jika saja Aira tahu penderitaan nyonya rumah tetangganya, dia akan lebih menghargai hidup. Sekalipun suaminya jarang pulang, dia mendapat suami yang setia.

Dan jika nyonya rumah tahu betapa tidak mudahnya membesarkan anak sendirian tanpa sering didampingi suami, dia bisa meredam sakit di hatinya.

Setiap Kurma Ada Bijinya

Setiap kurma ada bijinya, demikian ungkapan yang tertulis di dalam buku Aidh Al-Qarni. Setiap orang pasti punya masalah sendiri. Dunia tempat kita berlelah letih, ditempa ujian. Ada senang ada duka, lapang dan sempit, ketakutan diiringi rasa aman, dan banyak lagi warna-warni kehidupan yang Allah SWT torehkan.

Bahkan para nabi juga diuji. Nabi Nuh diuji dengan anaknya, Nabi Luth dititipkan istri yang durhaka, Nabi Musa menghadapi kaumnya yang sangat keras kepala, sementara Nabi Ayub ditimpa penyakit.

Tiada manfaat melihat kehidupan orang lain -dalam hal duniawi- lalu membandingkannya dengan kehidupan kita. Apa yang tampak belum tentu sama dengan perkiraan kita.

Setiap kurma ada bijinya. Begitu pula dengan kekurangan. Bukankah manusia tempatnya salah dan lupa? Tidak ada manusia yang sempurna, setiap kita pasti punya kekurangan.

Apa guna membandingkan pasangan dengan orang lain? Toh orang yang dibandingkan juga punya kekurangan. Tidak akan puas mata memandang, hasrat dan keinginan manusia lebih panjang dibandingkan usianya. Nafsu itu seperti bayi yang menetek pada ibunya, semakin dituruti makin menjadi-jadi.


Jika Senja Telah Tiba

Jika senja telah tiba. Kita sama-sama menua, berpuluh tahun mengarungi lautan kehidupan. Adakalanya biduk yang kita tumpangi bocor terhempas batu karang. Tak jarang pula kita menikmati indahnya suasana laut tenang.

Ketika rambut telah memutih, tulang rapuh, mata pun rabun. Jangankan mengingat tanggal pernikahan, makan atau mandi saja terlupa. Apa yang kita cari dari sebuah pernikahan? Masa-masa kejayaan telah berlalu. Satu persatu atribut keduniawian rontok: harta, jabatan, popularitas, paras rupawan, hingga kekuatan fisik. Di saat inilah kita diuji. Apakah kebersamaan kita selama ini tulus karena Allah atau karena hal lain?

Selalu ada titik terakhir tempat kita berhenti. Kebersamaan kita di dunia terlalu singkat, ibarat bertemu di pagi hari dan berpisah di siang hari, atau bahkan lebih cepat dari itu. Nikmati saja kebersamaan yang pendek ini, mungkin hari, jam, atau detik ini momen terakhir mata kita saling memandang.

Tak peduli yang tertangkap retina mata rambut putih masai tidak beraturan, gigi yang sudah ompong, atau kulit kusut mengeriput. Meskipun hati bertanya, “Masihkah kau ingat siapa aku?”
Berharap kita tetap berdampingan hingga senja menyapa –jika Allah mengizinkan-

Karena Kita Tak Bisa Sendirian

Karena mendidik anak tidak bisa sendirian, butuh pertolongan Allah dan bantuan orang lain.
Dekatkan anak dengan ulama, masjid, al-qur’an dan orang-orang shaleh. Tidak ada orang tua yang sempurna, kalau toh kita kurang mampu memberi teladan, berharap anak-anak kita diberi petunjuk melalui keteladanan orang lain.

Alkisah ada seorang wanita yang cerdas. Dia bernama Al-Ghumaisho, ibunda Anas bin Malik.
Wanita itu menanamkan bekal terbaik di hati Anas kecil, yaitu kecintaan pada Rasulullah SAW. Tatkala Anas berusia 10 tahun, ibunya membawa Anas kepada Rasulullah SAW, lalu berkata,” “Wahai Rasul, tidak satu pun seorang laki-laki dan perempuan dari Anshar ini, kecuali telah memberi hadiah kepadamu, dan sesungguhnya Aku tidak memiliki apa yang dapat aku berikan kepadamu kecuali anakku ini…. maka ambillah anak ini agar dia dapat membantumu kapan Anda mau.”

Ibunda Anas tahu benar kepada siapa dia menitipkan anaknya. Kepada manusia paling mulia di muka bumi Rasulullah SAW.

Bukan tanpa sengaja, Al-Ghumaisho berharap anaknya mereguk ilmu, meneladani keutamaan akhlak dari sumber yang sangat terpercaya.

Jikalau pada kenyataannya kita terpaksa membesarkan anak di tengah lingkungan yang serba tidak mendukung. La tahzan, jangan bersedih.

Kita bisa belajar dari kisah Nabi Musa. Pada masa awal kehidupannya, dia terpaksa berpisah sementara dari ibunya. Dilarung ke sungai menghindari kekejaman Firaun.

Takdir Allah berkata lain, Nabi Musa justru diselamatkan oleh Asiyah, istri Firaun. Akhirnya dia dibesarkan di dalam kerajaan musuhnya sendiri. Penentang Allah yang melampaui batas. Meskipun begitu Nabi Musa tumbuh menjadi pemuda yang beriman.

Ada kisah lain yang mirip tapi tak sama. Seorang kawan bercerita, dia aktif menggiatkan program sekolah gratis di sebuah desa di daerah Jawa Barat. Sore harinya anak-anak SD itu tidak langsung pulang ke rumah. Mereka menghafalkan Al-qur’an bersama-sama.

Ada satu orang anak yang istimewa, anak itu memiliki ayah yang berprofesi sebagai preman. Tato memenuhi tubuh ayahnya.

Tak dinyana, saat mendengar hafalan Al-Qur’an anaknya, sang ayah menangis tersedu-sedu.
“Saya berantakan gini, kok bisa punya anak baik?” ujarnya tak percaya.

Siapa yang menggenggam hati anak itu sehingga dia mudah menerima ajaran Islam meskipun lingkungannya tidak mendukung? Ada kehendak Allah SWT yang berperan di dalamnya.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).


Maka diantara sekian banyak kekurangan-entah yang berasal dari diri kita sendiri sebagai orang tua atau dari lingkungan sekitar- dalam mendidik anak, ada doa yang tidak terputus. Berharap kelak Allah SWT menjaga anak keturunan kita.

(Tulisan ini telah dimuat di www.ayolebihbaik.com)

Prajurit yang Tetap Tinggal di Rumahnya

"Perempuan itu separuh dari sebuah bangsa. Bahkan separuh yang paling mempengaruhi dan memberi peran besar bagi hidupnya suatu bangsa."
(Hasan Al-Bana)

Wanita itu bernama Lathifah Husain Ash Shuli, wanita beruntung yang medapat pinangan tak lama setelah calon ibu mertua mendengar lantunan syahdunya saat membaca kalam Ilahi.

"Duhai, siapakah pemilik suara nan syahdu ini?" Calon ibu mertua bertanya-tanya dalam hati.

Rupanya wanita yang memiliki anak lelaki yang sholeh dan giat berdakwah itu tidak mampu menahan rasa penasaran. Dia bertanya pada keluarga Lathifah.

"Itu suara salah satu putri kami, Lathifah," jawab keluarga Ash Shuli.

Dibuat terkagum-kagum ibunda sang pria, terbayang di benaknya air muka Lathifah yang berseri-seri karena pancaran keimanan dari lubuk hati yang terdalam.

Tak lama setelah peristiwa itu, datanglah sang pria bersama keluarganya dengan niat melamarnya.

Hanya perlu waktu dua bulan, mereka duduk di pelaminan. Barakallahu lakuma wa barakallah alaikuma wa jama'a bainakuma fii khoiiir.

Lathifah sadar betul, pria yang saat itu menjadi suaminya bukan pria biasa. Dia milik umat. Pria yang namanya kini terus dikenang dalam sejarah tertoreh di hati umat Islam. Dialah Hasan Al-Bana.

Kesibukan Hasan Al-Bana yang luar biasa membuat Lathifah tetap tinggal di rumah. Menjaga dan mendidik anak-anaknya sepenuh hati. Dia bak prajurit yang gigih menjaga bentengnya.

Wanita hebat itu telah memberi ketenangan di hati Hasan Al-Bana karena dia yakin anak-anaknya berada di tangan yang tepat. 

Ukhtifillah, bukan tidak boleh wanita beraktivitas dan berdakwah di luar rumah. Istri Hasan Al-Bana lebih memilih tinggal di rumah menjaga anak-anaknya karena kesibukan Hasan Al-Bana yang luar biasa. Jika semua orang pergi meninggalkan benteng maka siapa yang akan menjaganya?

Kita boleh beraktivitas di luar rumah dengan syarat tidak melalaikan tugas dan tanggung jawab di rumah. Menuntaskan amanah di rumah sebelum amanah dakwah di luar. Karena kita punya tanggung jawab yang besar.

Kita Punya Tugas Mulia, Mengembalikan Anak pada Al-Qur'an
 
Telah berlalu beberapa generasi. Waktu berjalan dan zaman terus bergulir. Masa-masa keemasan telah lewat, dan sejarah akan diingat.

Siapa yang tidak mengenal kitab Al-Muwaththa’? Kitab fenomenal yang diakui oleh Imam Syafi'i sebagai kitab yang banyak manfaatnya. Malik bin Anas yang menyusunnya, atau kita sering menyebutnya dengan sebutan Imam Malik.

Di balik sosok besar, pasti ada ibu yang hebat. Imam Malik mengisahkan tentang masa kecilnya, "Pada masa kecil, aku sangat menyukai penyanyi. Ibu tahu aku sangat gandrung dengan nyanyian, tapi dia merasa teladan yang kuidamkan tidak benar. Dia memalingkan aku dari lagu-lagu dan berpesan, "Seorang penyanyi, jika ia buruk rupa, maka lagunya tidak akan dilihat dan didengarkan. Karena itu tinggalkanlah lagu dan tuntutlah ilmu fiqih!"

Imam Malik mendapat banyak bimbingan dari ibunya. 

Ukhtifillah, selain faktor lingkungan dan pergaulan, ibu memiliki peran besar dalam mencetak anak-anak Qur'ani. Dalam sebuah program acara penghafal Qur'an cilik, Bachtiar Nasir berkata, "Rata-rata peserta di hafiz Qur'an ibunya sendiri yang mengajarkan." 

Dalam kesempatan lain dia berkata, "Katakan pada istrimu! Tetap tinggal di rumah dan kembalikan anak pada Al-Qur'an."
Tanggung Jawab Itu Ada di Pundak Kita

Kelak kitalah yang akan diminta tanggung jawabnya. Ibu yang di rahimnya telah Allah titipkan makhluk mungil tak berdosa.

Anak kita bukan anak kakek nenek, apalagi pembantunya. Kitalah baby sitter pilihan Allah SWT. Maka tugas pengasuhan tidak boleh dipindah tangan.

Saat ini banyak fenomena anak 'yatim piatu' padahal kedua orang tuanya masih hidup. Mereka anak yang diabaikan, jiwanya kosong, merasa kesepian di tengah keramaian.

Keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang tempat anak mendapat perlindungan.(www.yana8nurel6bdkbaik.deviantart.com)



Fenomena ini telah diketahui sejak beberapa tahun yang lalu. Seorang remaja datang kepada Elly Risman mencurahkan kegelisahan hatinya.

Generasi galau yang rapuh. Seharusnya rumah menjadi tempat penawar dahaga, ada ayah yang perhatian dan ibu yang penuh kasih sayang. Pelukan hangat dan perbincangan renyah di malam hari.

Momen yang mungkin sangat dirindukan anak kita, tapi apa daya. Mereka harus kembali menelan kekecewaan karena hanya mendapati rumah yang sunyi, dingin. Hanya ada pembantu tanpa kehadiran orang tua.

Ukhtifillah, bagaimana kelak kita menjawab pertanyaan Allah karena meninggalkan generasi yang lemah dan rapuh?
Keluarga Benteng yang Terakhir 

LGBT sedang berada di puncaknya. Bermula ketika bendera pelangi berkibar, merayakan kemenangan atas disahkannya pernikahan sejenis di AS.

Tenggorokan seperti tercekik. Cemas dengan masa depan anak kita di tengah kerusakan masif yang merajalela.

Kini media telah menjadi corong tersebarnya perilaku menyimpang itu. Televisi, radio, media sosial, media elektronik, dan media cetak.

Beberapa waktu lalu kita sempat dikejutkan dengan kemunculan komunitas LGBT yang beranggotakan anak usia remaja. Mereka tidak lagi malu menunjukkan orientasi seksnya yang menyimpang di media sosial. Tidak hanya remaja, pemikiran dan perilaku LGBT juga menyasar anak-anak.

Kartun menjadi pintu pertama mengenalkan LGBT pada anak. Mereka juga masuk melalui games hingga kurikulum sekolah. Tidak main-main kerasnya perjuangan mereka. Saat ini mulai terlihat hasilnya, ditandai dengan kemunculan generasi Alay. Laki-lakinya 'melambai' wanitanya jantan.

Pornografi juga menyelinap dengan mudah ke rumah kita melalui gadget. Di tengah-tengah dahsyatnya tantangan zaman, keluarga menjadi benteng terakhir yang bisa menjaga anak kita dari nilai-nilai yang buruk.

Ukhtifillah, sudah saatnya kita pulang. Janganlah marah ketika suami meminta kita tinggal di rumah. Membantu perekonomian keluarga tidak harus meninggalkan rumah. Ada banyak jalan. Biarkan suami berkata dengan gagah, "Biar abi aja yang cari duit."

AlAqsa Nasibmu Kini

Oleh: Inku Hikari

“Kita harus berjuang sampai Allah menurunkan kecintaan pada Palestina,” (Khalid Misyal).

Lagi, ini pertemuanku untuk kesekian kalinya dengan Ustazah Nurjannah Hulwani. Selalu ada jejak yang membekas di setiap pertemuan dengannya.

Dia tidak mengenal siapa aku. Aku hanya butiran debu, nyaris tak terlihat. Satu saja yang ada di benakku saat itu. Hanya ingin mendengar, menulis, dan menyebarkan kabar saudara muslim di Palestina. Saudaraku di sekitar Alquds yang telah menjual harta dan jiwanya untuk ditukar dengan surga. Kerinduan itu yang terus memanggil, membuat jariku ingin terus mengabadikan kisah hidup mereka.

“Keberanian dan keimanan pemuda Palestina merupakan tolak ukur keberanian dan keimanan kita,” ujar Ustazah Nurjannah Hulwani.

(www.halaqahdakwah.wordpress.com)

Kondisi di Palestina semakin memanas. Israel semakin brutal merusak Alaqsa. Mereka melemparkan granat, menembak gas air mata dan peluru karet. Menginjak-injak Masjid Alaqsa dengan sepatu mereka yang kotor. Muslim Palestina dilarang shalat di Alaqsa, mereka tidak ragu menyerang orang yang sedang beribadah.

“Menurut Yusuf Qaradhawi masalah umat yang terbesar saat ini adalah membantu Alaqsa,” jelas Ustazah Nurjannah Hulwani.

Alaqsa simbol kejayaan Islam, kiblat pertama umat ini.

Para murabitun dan murabitin hingga saat ini terus berjaga di Alaqsa, bergantian tanpa henti. Tanpa lelah.
“Palestina dikepung berbagai keteladanan mereka punya ruh yang sama. Presidennya, gurunya, teman-temannya, orang yang shaleh.”

Izinkan aku untuk mengingat pesan mereka.

Alqur’an sebaik-baik senjata yang kita punya.
(Tulisan ini telah dimuat di www.islampos.com)

Kabar Tentang Al-Aqsa

Ummu Muslim, seorang wanita asli Palestina yang saat ini tinggal di Yordania, wilayah yang terdekat dengan jalur Gaza. Semua warga Palestina yang telah keluar dari Gaza tidak akan bisa kembali.

Rabu, 1 Juli 2015, menjadi hari yang akan kukenang selamanya. Aku sudah lama menanti momen-momen untuk bertemu langsung dengan saudaraku dari Palestina. Alhamdulillah, Allah mengabulkan keinginanku itu di bulan Ramadan tahun ini. Mengingat kondisi di Palestina yang semakin menghimpit semenjak Presiden Mursi di kudeta, rasanya sangat kecil kemungkinan untuk bisa pergi ke Gaza. Lagipula siapa aku ini? hanya orang yang lemah dengan sedikit amal ibadah. Rasanya masih belum pantas menginjakkan kaki ke Gaza.

Ummu Muslim, membawa berita tentang Gaza dan semangat ukhuwah yang tidak dapat dibatasi oleh perbedaan suku, ras, dan wilayah geografis. Umat islam ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh sakit maka yang lain ikut merasakannya.

Ummu Muslim bersama dengan seorang penerjemah, di Masjid Ar-Rahman, Kalisari

Dalam acara tersebut, beliau menjelaskan tentang kondisi Masjid Al-Aqsa saat ini, Masjid yang menjadi kiblat pertama ummat islam yang saat ini berada di bawah penjajahan Israel. Beliau menjelaskan tentang kekeliruan informasi yang banyak berkembang di masyarakat. Banyak orang yang memperdebatkan tentang Masjid Al-Aqsa, apakah yang berkubah kuning (Masjid Sokhroh) atau yang berkubah biru (Masjid Qibli). Menurutnya ada propaganda yang dibentuk oleh Israel agar umat islam menganggap Masji Al-Aqsa hanya kedua Masjid tersebut. Padahal yang dimaksud dengan Masjid Al-Aqsa adalah semua bangunan, taman, dan Masjid yang ada di dalam komplek Al-Aqsa.

 Masjid Al-Aqsa merupakan semua bangunan dan taman yang ada di dalam komplek Masjid Al-Aqsa (berada di dalam garis merah) sumber gambar: www.boemi-islam,net

Saat ini kondisi Masjid Al-Aqsa sangat memprihatinkan, banyak kerusakan yang ditumbulkan akibat penggalian yang dilakukan oleh Israel di bawah Masjid Al-Aqsa. Muslim Palestina, terutama pemuda dan remaja laki-laki dilarang salat di Masjid Al-Aqsa, sedangkan mereka membebaskan orang-orang Yahudi memasukinya dan berbuat sekehendak hati di Masjid Al-Aqsa.

Masjid Al-Aqsa merupakan salah satu dari tiga Masjid yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw. untuk kita kunjungi. Ketiga Masjid itu adalah Masjidil Haram, Masjidil Aqsa dan Masjid Nabawi. Rasulullah juga pernah menganjurkan para sahabatnya untuk tinggal di baitul maqdis (daerah di sekitar Masjidil Aqsa). Ketika itu salah seorang sahabat bertanya pada Rasulullah Saw, "Jika suatu saat kami terusir dan mendapati kesulitan untuk menetap di tempat tinggal, maka kemanakah kami harus pergi?" Rasulullah Saw menjawab, "Maka pergilah ke baitul maqdis..."


Masjid Al-Aqsa merupakan Masjid kedua yang dibangun di bumi ini, setelah Masjidil Haram. Jarak pembangunan keduanya adalah 40 tahun.

Suatu hari Rasulullah Saw. ditanya oleh Maimunah, "Ya Rasulullah, kabarkan kepada kami tentang Masjidil Aqsa." Rasulullah Saw. menjawab, "Datangilah Masjidil Aqsa, dan salatlah di sana." Kemudian Rasulullah Saw. ditanya, "Lalu bagaimana jika kami tidak bisa salat di Masjidil Aqsa?" Rasulullah Saw. kembali menjawab, "Hendaklah kalian menginfakkan atau mengirimkan minyak untuk menyalakan lampu-lampu di Masjidil Aqsa. Sesungguhnya siapa yang mengirimkan minyak ke Masjidil Aqsa maka seakan-akan dia telah salat di sana."

Menurut Ummu Muslim hadist ini merupakan isyarat dari Rasulullah Saw. bahwa kelak ummat Islam akan kesulitan untuk salat di sana dan Masjidil Aqsa akan dalam keadaan terjajah. Dan Masjid ini sangat membutuhkan pertolongan ummat islam. Perolongan orang-orang muslim terhadap Masjidil Aqsa merupakan kewajiban.

Saat ini Israel menempatkan banyak kamera, tentara laki-laki dan juga tentara perempuan di dalam Masjidl Aqsa sehingga memudahkan mereka untuk menangkap kaum muslim yang menjaga Masijidil Aqsa.

Hal yang perlu kita ketahui mengapa Israel selalu membombardir orang-orang di Gaza, karena mereka mengetahui bahwa orang-orang di Gaza memiliki cita-cita untuk membebaskan Masjidil Aqsa, dan hal itu sangat tidak diinginkan oleh Israel. Orang-orang Palestina tetep berusaha bertahan di sekitar Masjidil Aqsa dan menghadapi kekejaman Israel, mereka meminta ummat Islam di belahan bumi lain untuk mendukung dan bersama mereka agar mereka mampu bertahan.

Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kita akan ditanya oleh Allah Swt. apa yang sudah kita lakukan untuk membebaskan Masjidil Aqsa? Dan setiap kita memiliki kewajiban untuk menolong Masjidil Aqsa dengan apa yang kita miliki. Tumbuhkan rasa cinta di hati anak-anak kita dengan Masjidil Aqsa dan kabarkan kepada mereka apa yang terjadi di sana. Semoga salah satu dari keturunan kita kelak menjadi bagian dari pembebas Masjidil Aqsa.
  
Lihat video Gaza, klik di sini: Pray for Gaza. Video kondisi Gaza.


Salurkan donasi terbaik kita melalui:

KNRP
Rekening donasi Palestina
a.n Komnas untuk Rakyat Palestina
Rek. BSM: 701.836.2133
Rek. BCA: 760. 032. 5099
Rek. Bank Muamalat: 369.00.11111

www. knrp.org













Ini Kisah Tentang 'Polusi Suara'.

Di sekitar kita ada banyak suara gaduh, deru kendaraan bermotor, mesin-mesin pabrik, dentuman alat musik, hingga gaduhnya suara petinggi negara yang saling berkelahi, melontarkan kata-kata kotor dan komentar penuh sensasi, tidak memberi solusi justru membuat orang jadi sensi. Ah ... apa sih?!

Kenapa kata "polusi suara" hanya disematkan kepada toa Masjid yang sudah tua? Hanya karena memutar kaset-kaset dengan lantunan suara yang syahdu. Entahlah, keindahan suara yang dianggap 'polusi suara' itu mungkin terasa bak kaset rusak yang berdecit-decit. 

Toa Masjid
www.itoday.co.id

Jauh sebelum label 'polusi suara' disematkan, suara nan syahdu itu telah digunakan sebagai sarana terapi kejiwaan di sebuah klinik besar, Florida, Amerika Serikat. Dr. Al-Qadhi melakukan penelitian yang panjang tentang hal itu.

Hasil penelitian membuktikan hanya dengan mendengarkan Alqur'an seseorang merasakan dampak yang luar biasa, baik dia mengerti isinya ataupun tidak. Penemuan dokter ahli jiwa ini membuktikan bahwa mendengar Alqur'an menurunkan tingkat depresi, kesedihan, ketenangan jiwa, dan mengurangi penyakit yang diderita oleh orang yang diteliti.

Hasil penelitian yang dia dapatkan tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Salim, Universitas Boston. Beberapa responden diperdengarkan Alqur'an tanpa diberitahu bahwa yang didengarnya lantunan ayat suci Alqur'an, lalu pada sesi kedua mereka diperdengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alqur'an. Semua responden tidak memahami bahasa Arab.

Hasilnya 65% responden merasakan ketenangan saat mendengar Alqur'an dan hanya 35% yang merasakan ketenangan saat mendengar bahasa Arab yang bukan dari Alqur'an.

Sudahlah, tidak perlu jauh-jauh menengok mereka. Aku sendiri 'pasien' yang Allah sembuhkan melalui murottal Al-qur'an, suara yang dianggap 'polusi suara' itu yang menemani hari-hariku untuk bangkit dari keterpurukan.

Aku masih ingat saat menjelang senja, duduk sendirian di Masjid At-Tin hanya untuk mendengar suara lantunan Alqur'an sebelum azan Maghrib. Tidak ada yang aku lakukan, hanya duduk termenung dengan pikiran yang seakan berkelahi di kepala. Sejenak, suara nan syahdu itu menjadi terminal peristirahatan, tempatku rehat dari segala kepenatan.

Jika saja kita mau belajar dari sejarah, bahkan Rasulullah Saw. sangat suka mendengar bacaan Alqur'an. 

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah kepadaku al-Qur’an.” Ibnu Mas’ud berkata: Aku katakan, “Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?”. Beliau menjawab, “Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku.” Maka aku pun membacakan surat an-Nisaa’, ketika sampai pada ayat [yang artinya], “Bagaimanakah jika [pada hari kiamat nanti] Kami datangkan dari setiap umat seorang saksi, dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’: 41). Aku angkat kepalaku, atau ada seseorang dari samping yang memegangku sehingga aku pun mengangkat kepalaku, ternyata aku melihat air mata beliau mengalir (HR. Bukhar)

Seharusnya kita berkaca diri, apakah kita lebih baik dari Rasulullah Saw. hingga ketika dibacakan ayat-ayat Allah Swt. kita memalingkan muka karena kesombongan, atau jangan-jangan hati kita berpenyakit.



Parenting Islami: Agar Anak Mencintai Orangtua

Memiliki anak yang shaleh dan shalehah merupakan impian setiap orangtua. Semua orangtua pasti menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. 

Meskipun demikian tidak ada orangtua yang sempurna dan lepas dari kesalahan, selalu ada ruang untuk memperbaiki diri dan terus belajar seni mendidik anak atau parenting.
    
Berbakti dan tulus menyayangi orangtua merupakan ciri-ciri anak yang shaleh dan shalehah, tentu saja orangtua memiliki peranan yang besar dalam membantu dan membentuk kepribadian anak agar memiliki ciri-ciri tersebut. Mari kita simak tips parenting agar anak mencintai orangtua.
 
1.    Berlaku Adil
    
Ada sebuah kisah nyata menarik yang dituliskan dalam buku M. Fauzil Adhim yang berjudul Saat Berharga untuk Anak Kita, alkisah ada seorang bapak tua renta yang tidak pernah dikunjungi oleh salah satu anaknya. Anak itu memiliki harta yang melimpah, mudah baginya berkeliling dunia.
    
Dulu bapaknya tidak pernah memberi anak itu perhatian, meskipun hanya panggilan sayang. Semua anak-anak mendapat fasilitas dan perhatian yang cukup kecuali anak tersebut. Sepertinya ada hal yang tidak sesuai keinginan saat anak itu dilahirkan, dia dianggap ‘berkekurangan’.
    
Sang anak merasa disisihkan, padahal bisa saja anak yang dianggap ‘berkurangan’ itu justru menjadi cahaya bagi umat.
    
Jika memiliki anak lebih dari satu, keadilan dalam memberi kasih sayang, perhatian, dan fasilitas merupakan anjuran dari parenting islami.
 
Kadangkala anak merasa orangtua lebih menyayangi saudaranya karena pemberian kasih sayang, perhatian, dan fasilitas yang berat sebelah. 

Perlakuan yang adil mencegah anak dari sifat iri, permusuhan, kebencian, dan dengki di dalam hatinya. Hingga mengakibatkan tali persaudaraan di antara mereka terputus.
 
Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW tentang parenting dan prinsip keadilan. Dari an-Nu’man bin Basyir: Rasulullah SAW bersabda, “Berlaku adillah terhadap anak-anak kalian dalam pemberian seperti kalian suka apabila mereka berlaku adil terhadap kalian dalam hal berbakti dan kelembutan.”

sumber gambar: internet
2.    Jadilah Temannya
 

Salah satu anjuran parenting  untuk memikat hati anak dengan menjadi teman dan menemaninya bermain. Orangtua teman yang terbaik untuk anak. 

Bermain bersama mereka memberikan banyak manfaat, di antaranya membuat hubungan orangtua dengan anak lebih dekat dan hangat, mengembangkan kemampuan bersosialisasi, mengenal aturan, melepas stres, dan mengembangkan harga diri.
 
Saat bermain orangtua bisa lebih leluasa berkomunikasi dengan anak, memahami keinginan dan kebutuhannya. Anak-anak juga merasa lebih santai, gembira, dan terbuka.
 
Kegembiraan membawa dampak positif bagi perkembangan jiwa mereka. Anak yang gembira lebih mudah menerima masukan, siap menjalankan perintah, dan mau menerima pengarahan.
 
3.    Memuji dengan Tulus
 
Pujian yang tulus kepada anak, pada saat yang tepat dan tidak berlebihan memberi dampak yang positif. Pujian membangun harga diri, mereka merasa mampu dan percaya diri. Metode parenting ini telah dipakai oleh Rasulullah SAW dalam membangun jiwa anak.
   
Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Umar: Ada orang di zaman Rasulullah SAW apabila bermimpi dia selalu menceritakan mimpinya itu kepada Rasulullah SAW. Aku juga ingin bermimpi kemudian menceritakannya kepada Rasulullah SAW.
    
Saat itu aku masih belia, aku tidur di masjid. Lalu bermimpi seakan ada dua orang malaikat yang membawaku ke neraka. Neraka itu bundar seperti sumur dan memiliki dua tanduk.
    
Di dalamnya aku melihat orang-orang yang aku kenali. Aku pun mengucapkan, “Aku berlindung pada Allah dari neraka.”
 
Kemudian kami bertemu dengan malaikat lain. Malaikat itu berkata, “Jangan khawatir.”
 
Aku menceritakan mimpi itu kepada Hafsah, lalu Hafsah menceritakannya kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Sebaik-baik orang adalah Abdullah, kalau dia mau mengerjakan shalat malam.” Setelah kejadian itu, aku jarang tidur malam.
 
Pujian yang tulus dari Rasulullah SAW memberi dampak yang besar pada pemuda itu, dia termotivasi untuk melakukan kebaikan. 

Sebaliknya banyak marah dan mencela membawa dampak yang buruk. Syamsudin al-Inbabi berkata, "Tidak boleh banyak mencela anak, sebab hal itu menyebabkan anak memandang remeh segala celaan dan perbuatan tercela."

Berbuat baik kepada anak-anak, termasuk tidak banyak mencela dan memberi pujian yang tulus membuat orangtua mendapat tempat istimewa di hati mereka.


Referensi:
Saat Berharga untuk Anak Kita, M. Fauzil Adhim
Prophetic Parenting Cara Nabi Mendidik Anak, DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid

Anak-Anak dan Aktivitas Dakwah

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang shalih.” (QS. Ash-Shaffat [37] : 100).

Demikianlah do'a Nabi Ibrahim A.S saat lama menunggu diamanahi seorang anak. Ketika itu usianya sudah tidak lagi muda. Lalu Allah SWT mengabulkan do'a itu dengan memberinya anak yang bernama Ismail. Seorang anak yang sangat istimewa karena keimanannya yang matang kepada Allah SWT.

“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Isma’il).” (QS, Ash-Shaffat [37] : 101).

Betapa indahnya hubungan ayah dan anak ini. Nabi Ibrahim mempersiapkan nabi Ismail sedemikian rupa. Menanamkan kecintaan pada Allah SWT dan agama islam ke dalam relung hati Ismail, hingga dia tumbuh menjadi anak yang taat kepada perintah Allah SWT dan tidak merasa berat untuk memikul amanah dakwah.  
Hingga hari itu datanglah perintah Allah SWT kepada nabi Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya.

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu’” (TQS, Ash-Shaffat [37] : 102)

Jawaban nabi Ismail di luar dugaan, dia rela mengorbankan nyawa untuk memenuhi perintah Allah SWT dan bersabar menjalaninya di usia yang masih belia.

"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).(103). dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,(104). Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.(105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.(106). dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.(107). “(QS: As Shaaffat /37 : 102 – 107)

Lalu jelaslah kesabaran keduanya, mereka membenarkan perintah Allah SWT. Maka Allah SWT menggantinya dengan hewan sembelihan.

Sahabat, sudah tidak terhitung berapa kali kita mendengar kisah di atas terutama ketika sedang merayakan hari Idhul Adha. Setiap kali mendengarnya membuat hati kita bergetar, mengingat sesosok makhluk mungil yang mungkin saat ini sedang kita dekap. Sesekali tataplah matanya. Tanyakan diri kita sendiri, sudahkah kita mendidiknya dengan baik?

Anak-anak, penyejuk mata hati. Dianugerahi anak yang shalih dan shalihah merupakan kebahagiaan tiada tara. Tidak ada kesedihan yang lebih besar selain memikirkan nasib anak-anak yang membangkang pada perintah Allah SWT.

Teringatlah olehku saat melihat berita di televisi tentang anak remaja pelaku kejahatan yang meninggal karena dibakar hidup-hidup. Selama beberapa lama jenazahnya terlantar di rumah sakit, tidak ada satu pun keluarga yang mengambil dan mengurusnya.

Setelah sekian lama datanglah kedua orang tuanya yang sudah tidak muda lagi. Mereka menangis di ruang jenazah saat melihat tubuh hitam legam anak itu. Tidak ada orang lain selain mereka berdua yang mengurus jenazahnya. Dengan kesabaran dan air mata berderai sang ibu memandikan jenazah anaknya yang sudah tidak berbentuk. Sementara sang ayah yang rambutnya memutih berusaha menguatkan diri.

Adakah kesedihan yang lebih dalam selain melihat anak yang sangat disayangi meninggal dalam keadaan bermaksiat kepada Allah SWT?

Anak-anak amanah dakwah kita, sesibuk apapun dan sebanyak apapun aktivitas kita di luar, jangan sampai membuat kita lupa akan tugas mendakwahi anak-anak di rumah. Kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas kondisi mereka. Merekalah yang lebih berhak mendapat bimbingan dan arahan kedua orang tuanya.


sumber gambar: Internet



Malu

Malu merupakan salah satu cabang iman. Ada banyak bentuk malu, di antaranya tidak merasa telah melakukan banyak amal kebaikan, tidak merasa diri besar atas semua pengorbanan yang telah diberikan untuk menegakkan agama-Nya, dan tidak mengistimewakan diri sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang merasa bangga dengan amal kebaikan yang telah dilakukannya? Padahal hanya karena izin Allah SWT saja dia mampu melaksanakan amal kebaikan tersebut. Jika bukan karena kasih sayang dan kehendak-Nya dia tidak akan mampu bangun di pagi hari untuk shalat subuh.

Jika bukan karena Allah SWT memudahkan langkah dan meringankan hatinya, niscaya dia tidak akan sanggup memikul beban amanah di jalan dakwah. Allah SWT yang menguatkan pundak dan memberinya pertolongan sehingga dia dapat melaksanakan tugas dengan baik.

Orang yang memiliki rasa malu yang besar tidak akan mengistimewakan dirinya sendiri, dia sadar posisinya sebagai hamba Allah SWT. Baginya tidak ada perbedaan ketika berada di barisan terdepan atau hanya menjadi kerikil yang melengkapi bangunan dakwah. Dia tidak merasa keberatan melayani dan memenuhi kebutuhan orang lain.

Sungguh seseorang tidak akan sanggup meniti jalan yang lurus jika bukan karena kehendak Allah SWT.

"Al-Qur'an itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam, yaitu bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki menempuh jalan itu kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam." (Qs. At-Takwir: 27-29).

sumber gambar: Internet

Allah SWT Sayang Kepada Wanita

Sahabat, semua aturan yang telah Allah SWT buat merupakan sebentuk kasih sayang-Nya kepada kita. Dia yang Maha Mengetahui segala kebutuhan dan kondisi kita. Wanita memiliki karakteristik tubuh yang khas berbeda dengan pria.

Setiap bulan wanita menahan sakit saat haid--meskipun tidak semuanya, sementara pria tidak. Saat dalam kondisi mengandung wanita menanggung beban di perutnya, morning sick di tiga bulan pertama mengandung, merasakan sakitnya melahirkan anak yang mempertaruhkan nyawanya sendiri. 

Setelah melahirkan wanita mengeluarkan banyak darah saat masa nifas, Selain itu kita punya kewajiban untuk menyusui dan mengurus anak. Mengurus anak bukanlah tugas yang ringan, adakalanya kita harus begadang, mendengar tangis dan berusaha menenangkannya.
Tugas mencuci baju juga menggunung, bayangkan jika di pagi harinya kita harus memaksakan diri berangkat ke kantor.

Itulah sebabnya Allah SWT tidak membebani wanita dengan keharusan mencari nafkah, karena wanita sudah memiliki tugasnya sendiri yang tidak kalah berat dibandingkan tugas para pria. Sungguh sangat berat beban yang ditanggung oleh wanita yang berperan ganda--mencari nafkah sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Setelah sibuk dan lelah dengan pekerjaan kantor tak ada waktu untuk beristirahat karena harus mengurus segala keperluan di rumah. Adakalanya kelelahan dan kepenatan yang bertumpuk-tumpuk itu mengikis rasa kasih sayangnya kepada anak-anak. Apalagi jika masih memiliki anak-anak yang berusia dini, mereka sangat menutut perhatian orang tuanya.

Janganlah marah ketika suami meminta kita untuk tetap tinggal di rumah. Rumah tempat terbaik untuk makhluk mulia bernama wanita. Biarlah para suami dengan gagah berkata, "Biar abi aja yang cari duit."

Lalu bagaimana jika terpaksa bekerja? karena mau tidak mau kita menjadi tulang punggung dan single parent. Kita bisa bekerja di tempat yang baik, menghindari campur baur, tabaruj, dan mencari pekerjaan yang halal. Carilah asisten rumah tangga yang bisa meringankan pekerjaan kita di rumah.

sumber gambar: Internet


Asuransi Terbaik di Dunia

Suatu senja di sebuah ruangan kecil. Aku berbincang dengan teman, entah dari mana awal mulanya tiba-tiba kami membicarakan asuransi.

"Biarpun biaya kesehatan ditanggung asuransi, tetap saja yang namanya orang sakit itu enggak enak. Kita harus tetap bergantung sama Allah."

Menabung dan mempersiapkan masa depan bukan hal yang salah, hanya saja semua persiapan yang sudah kita lakukan jangan sampai mengurangi kadar kebergantungan kita kepada Allah SWT. Bukankah mudah bagi Allah SWT mengambil semua tabungan, deposito, dan asuransi yang sudah kita rencanakan jauh-jauh hari?

Ah, kalimat itu terasa menohok. Hampir semua orang tua menginginkan masa depan yang baik untuk anak-anaknya, mereka bekerja membanting tulang, menabung, membangun usaha, dan membuat asuransi demi makhluk mungil dengan tatapan mata yang bening. Terkadang anak-anak membuat kita sangat mencintai harta dan takut miskin.

Teringatlah olehku sebuah ayat Al-Qur'an, "Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu (Qs. Al-Kahfi : 82)."

Orang yang shaleh akan dijaga anak keturunannya. Adakah jaminan yang lebih baik dari jaminan yang diberikan Allah SWT?

Sejujurnya ada satu hal yang perlu kita takuti, yaitu meninggalkan anak keturunan yang lemah--lemah nilai agama dan moralnya. Sejatinya keshalehan kita, dan keshalehan merekalah yang akan mendatangkan penjagaan Allah SWT. Tak peduli berapa banyak harta yang kita tinggalkan.

sumber: Internet


Warga Gaza Cinta Al-Qur'an

Oleh: Ustazah Nurjannah Hulwani

     Ismail Haniyya, beliau selalu menjadi garda terdepan menjadi aktivis mukhoyyam Al-Qur'an. Menterinya, anak-anaknya, rakyatnya, mereka itu cinta Al-Qur'an sampai semuanya dikelola oleh departeman agama di Gaza. Dan yang membuat saya tidak mampu menahan air mata itu ketika saya mendatangi majelis tahfidz Al-Qur'an ada seorang ibu yang bernama Fatiya Gatos, usia 57 tahun, buta huruf, mulai menghapal Al-Qur'an di usia 50 tahun. Di usia 56 tahun hapal 30 juz Al-Qur'an.

     Satu lagi seorang wanita Palestina, usianya 50 tahun, koordinator 16 TPA. Saking semangatnya dia menjumpai saya dengan tergopoh-gopoh, dia katakan, "Bu Nurjannah, Alhamdulillah saya sudah hapal 25 Juz. Sebentar lagi saya akan hapal 5 Juz dan awal bulan saya akan diwisuda."

     Jadi obrolan sehari-hari kita sangat terkait dengan apa yang ada di hati dan di kepala. Kalau cintanya dengan kekuasaan pembicaraannya tentang kekuasaan. Kalau cintanya materi, dia akan bicara soal materi. Pada saat itu saya bisa tersenyum, tapi setiba di penginapan air mata saya terkuras deras. Saya ingin mengatakan kalau Allah mengijinkan saya kembali, maka tempat yang pertama kali saya datangi adalah lembaga tahfidz Al-Qur'an.

     Pada saat itu saya hanya takut kematian. Saya meminta untuk dipanjangkan usia oleh Allah SWT, agar sepulang ke Indonesia saya bisa memperbaiki hubungan dengan Allah, dengan Al-Qur'an. Bagaimana mungkin kita mengatakan kita mencintai Al-Qur'an? Bagaimana mungkin kita menjadikan Al-Qur'an sebagai teman sejati kita? Jika ingin menjadikan Al-Qur'an sebagai teman sejati, kita harus sering bersilaturahim dengan Al-Qur'an. Membacanya, memperbaiki bacaannya, memahami isinya.

     Saya ingin menceritakan kepada ikhwan dan akhwatfillah, peristiwa di Rab'ah. Para alumni Rab'ah yang saya wawancarai, rata-rata yang menjemput kesyahidan adalah mereka yang hapal 30 juz Al-Qur'an. Selain aktivitas mereka di masyarakat dikenal. Asma Baltaji, anak pemimpin kita, DR. Baltaji. Dia menjemput kesyahidan di usia 17 tahun bukan hanya hapal 30 juz Al-Qur'an tapi juga hapal tafsir 30 juz Al-Qur'an.

     Di Palestina menjadi hafidz Al-Qur'an itu bukan berada di zona aman. Hafidz Al-Qur'an harus berbanding lurus dengan kontribusi dakwahnya. Hamas orang yang paling sholeh diantara penduduk Gaza. Dia hapal 30 juz Al-Qur'an, hapal hadits Arbain, dan tidak pernah meninggalkan salat berjama'ah di masjid. Dan kenapa wajahnya selalu ditutup untuk menjaga kelurusan niatnya. Agar mereka berjuang benar-benar karena Allah, bukan untuk disebut pahlawan.

     Dan menariknya orang-orang di Gaza bukan hanya hapal Al-Qur'an. Mereka orang yang berpendidikan, S1 sudah pasti. S2 dan S3 banyak di Gaza. Saya tidak tahu darimana mereka belajar.

    Cinta mereka kepada Al-qur'an itu memang luar biasa. Secara acak saya masuk ke PAUD, usia 2,5 tahun dengan lantangnya membaca surah Ar-rahman. Di jalanan kita acak, mereka membaca yang paling panjang.

    Menjelang kepulangan saya, ada anak-anak yang dibawa oleh seorang wanita Palestina. Usia 10 dan 8 tahun. Selama dua jam mereka menemani saya dengan memamerkan hapalannya. Bukan untuk riya, mereka hanya ingin menunjukkan betapa mencintai Al-Qur'an. Setelah bosan dia bernyanyi nasyid, setelah bosan dia berpuisi. Isinya tidak jauh dari cinta Al-Qur'an, cinta Al-Aqsha, dan cinta syahid fii sabilillah.

    Anak-anak itu menulis:

   Kami ingin bilang kepada anak-anak Indonesia, hapalkanlah Al-Qur'an, pelajarilah manhajnya!

   Agar kalian bisa datang ke Gaza dan bersama-sama dengan kami membebaskan masjid kita, Masjid Al-Aqsha.

   Salam kami untuk kamu semua, anak Indonesia.

   Salamku untuk anak-anak Indonesia, dan aku memohon doa dari kalian semua untuk kemenangan pembebasan Al-Quds dari rampasan Zionis yahudi.


sumber gambar: internet

Cerita dari Bosnia

       Saya pernah dikirim ke Bosnia, saat itu dalam kondisi perang. Saya dikirim ke sana bukan untuk berperang, tapi bertugas menangani anak-anak pengungsian di Bosnia.

     Saat itu Bosnia memasuki musim dingin, salju menutup di mana-mana. Saya bertugas di salah satu pengungsian. Sampai pada suatu hari datang sepasang anak dengan pakaian seadanya, padahal saat itu musim dingin.

     Saat melihat mereka saya berpikir, sepasang anak kecil dengan pakaian seadanya di musim dingin datang ke tenda pengungsian pasti yang dicari adalah makanan, pasti mereka kelaparan. Dengan sangat polosnya saya segera menyediakan coklat untuk sepasang anak ini.

     Dengan sedikit bekal bahasa Bosnia saya katakan, “Ini coklatnya.” Tapi apa jawaban yang saya dapatkan, mereka mengatakan, “Terima kasih, tapi bukan ini yang kami cari. Kami membutuhkan al-qur’an, di pengungsian tidak ada al-qur’an.”

     Saya tanya kepada ustadz yang saat itu juga bertugas di sana, “Bagaimana anak itu bisa begini ustadz?”

     Jawab ustadz, “Itulah anak khusus.”

     Saya penasaran, seperti apa dan siapa kedua orang tuanya. Selama dua hari berturut-turut saya mencari dari satu pengungsian ke pengungsian lain. Sampai akhirnya saya menemukan bahwa ayahnya sudah syahid (InsyaAllah) dan ibunya juga sudah syahidah (InsyaAllah). Bagaimana bisa seorang anak kecil, di usianya yang baru belasan tahun dan kehilangan kedua orang tuanya tidak depresi.

     Bahkan dia justru menjadi sosok yang kuat dan memiliki kepemimpinan. Anak itu pemimpin anak-anak di pengungsiann. Saya mencari informasi tentang sosok ayahnya, ternyata ayahnya sering menceritakan kisah-kisah kepahlawanan muslim di depan anak-anaknya. Inilah yang membentuk mereka.

     Cerita di atas merupakan kisah nyata dari Bapak Irwan Rinaldi saat dikirim bertugas ke Bosnia. Kisah ini disampaikan dalam sebuah acara seminar parenting tentang pentingnya peranan ayah dalam membentuk karakter anak.

     Saya pernah melakukan survey terhadap 700 orang ayah.

     Pertanyaan pertama, apa yang sudah anda berikan untuk anak anda? Hampir semua jawabannya adalah, “Saya sudah bekerja siang dan malam untuk memberi nafkah, menyekolahkan anak saya dan memenuhi kebutuhannya.”

     Pertanyaan kedua, pernahkah anda mendengarkan bacaan al-qur’an anak anda dan mengajarkan mereka membaca al-qur’an? Jawabannya semakin sedikit yang melakukannya.

     Pertanyaan ketiga, pernahkan anda menceritakan tentang Rasulullah SAW dalam sekali seminggu pada anak anda? Jawabannya semakin sedikit lagi yang melakukannya.

     Bukanlah suatu kesalahan ayah mencari nafkah, namun tugas ayah tidak hanya mencari nafkah. Bagaimana bisa anak mencintai al-qur’an jika tidak pernah melihat ayahnya membaca dan mengamalkan al-qur’an? Bagaimana bisa anak mencintai Rasulullah SAW jika tidak mengenal sosoknya, karena ayahnya tidak pernah bercerita.

     Sahabat, seperti itulah penuturan darinya. Ada pelajaran yang bisa kita ambil, peran ayah tidak kalah pentingnya dengan peran ibu dalam mendidik anak. Diperlukan kekompakkan ayah dan ibu dalam mendidik anak.

Sumber gambar: Internet

Curahan Hatiku

Jangan Seperti Lilin

Ada hal yang harus diwaspadai jika kita termasuk orang yang bekerja di ranah publik, yaitu kurangnya waktu untuk diri sendiri.
   
Berada di tengah-tengah kerumunan orang dan hiruk pikuk manusia, sangat menguras energi.
     
Menulis tidak sekadar menyusun huruf dan kalimat tanpa makna, menulis juga termasuk aktivitas transfer energi.     
    
Sudah seharusnya seorang penulis memiliki energi yang lebih untuk dibagikan kepada pembaca.
   
Jika tidak pandai membagi waktu untuk mengisi energi, bukan tak mungkin diri sendiri yang akan hancur.
   
Jangan seperti lilin, ia menerangi lingkungan sekitarnya tapi membinasakan diri sendiri.
  
Itulah sebabnya mengapa berlebihan bergaul dengan manusia merupakan sifat buruk yang dijauhi generasi Islam terdahulu.
    
Bergaul secukupnya selama membawa manfaat, dan tinggalkan kesia-siaan.


Sumber gambar: Internet

Pesan Ini untukmu, Wahai Penulis!

Al-Mawardi bahkan tidak pernah mempublikasikan kitab-kitab yang dia tulis sepanjang malam, seumur hidupnya.
   
Pemikirannya yang cemerlang dia sembunyikan rapat-rapat. Kitab itu baru tersebar setelah ajal menjemput.
   
Berbagai puja dan puji melimpah atas karyanya yang fenomenal. Seumur hidup Al-Mawardi menggigit lidah kuat-kuat, menahan diri untuk tidak dikatakan hebat.
  
Karyanya tetap abadi, terus dikenang dan terkenal. Dia mendapatkan semua itu tanpa pernah menginginkannya.
    
"Sesungguhnya apa yang dilakukan karena Allah itu akan abadi" kalimat itu tertulis di dalam kitab yang ditulis Imam Malik.
   
Sahabat, apa yang kita harapkan dari setiap goresan pena kita? sungguh amatlah jauh kapasitas diri kita dibandingkan dengan para sahabat dan ulama terdahulu.
   
Jika mereka lebih memilih kesunyian, kita lebih senang berada di tengah-tengah kerumunan orang.

Mereka menyembunyikan mutiara, sementara kita memamerkan batu kerikil yang tidak berharga.
  
Jika hati mereka lembut, kepala mereka tertunduk merendah, hati kita menjadi keras, sibuk menghias diri demi pandangan makhluk.
    
Lalu apa yang tersisa?
   
Al-Jahiz mengatakan, "Perhatikanlah wahai para penulis! 

Jika engkau melakukannya tanpa keikhlasan, tulisanmu akan menjadi seperti buih yang hilang. Seperti tumbuhan di musim buah, yang akan terbakar oleh angin musim panas."
   
Rasanya terlalu naif, jika kita berharap keabadian dengan menulis. Sementara kita melakukannya dengan niat yang bercampur kotoran.
  
Alih-alih mendapatkan ampunan-Nya, semua amalan justru hilang tak berbekas, ibarat batu yang licin. Hanya tersisa tumpukan dosa yang menggunung.
    
Ini perkara yang sangat berat...

 Sumber gambar: Internet

 Hayatan Thoyibah

Punya banyak harta takut kehilangan. Punya harta sedikit khawatir memikirkan masa depan.

Belum punya pasangan hidup gelisah. Sudah menikah menaruh curiga dikhianati.

Tidak punya pekerjaan sedih. Sudah diberi pekerjaan stres dengan tekanan kerja.

Lantas apa yang salah? jika dalam semua kondisi hatimu tak tenang.

Bisa jadi Dia belum memberimu hayatan thoyibah, kehidupan yang baik. Kehidupan orang mukmin.

Ada orang-orang yang tetap tenang dalam berbagai kondisi. Lapang atau sempit.

Mereka yakin dengan janji Allah Ta'ala, siapa yang bertaqwa akan diberikan jalan keluar dari arah yang tidak diduga.

Mereka tidak punya alasan untuk resah gelisah.

Alangkah senangnya orang-orang itu.

Sumber gambar: Internet

Wanita yang Menangis Karena Zakat

Sungguh aku pernah bertemu dengannya, seorang wanita yang ceria, senyum manis mengembang, dengan wajah yang dilapisi pulasan bedak tipis.

Dia selalu berseri, meskipun kadang ketika menyendiri wajahnya bermuram durja, namun mendung itu segera menghilang saat dia bertemu dengan orang lain.

Suatu hari dia berkata padaku, "Kalau mau dipikirin terus, bisa gila. Buat apa? lagian sedih enggak bikin masalah hilang."

Aku tahu, dulu dia orang yang tak pernah kelaparan, tidak juga  berpanas-panas di tengah siang yang terik. Tak perlu payah mengejar angkutan umum. Kendaraan roda empat mengantarnya kemana saja. Tidak hanya satu, garasi rumahnya dipenuhi mobil yang berjejer.

Hingga suatu ketika cobaan itu datang, roda kehidupan berputar 180 derajat. Kala itu dia tidak memiliki apa-apa, selain hutang yang menumpuk.

Aku tahu, dia wanita yang sholehah. 

Harta yang melimpah ditangannya tidak dinikmati sendiri. Dia sangat menghargai tamu dan menjamunya dengan layak, senang bersedekah, juga berzakat.

Hanya saja Allah SWT hendak mengujinya. 

Lebaran beberapa tahun yang lalu, saat takbir kegembiraan menggema dari masjid-masjid, aku menemaninya. 
    
Ketika itu tentu berbeda, tidak ada baju baru, opor ayam atau ketupat. Hanya lauk seadanya.
    
Tiba-tiba wanita itu berkata padaku dengan mata berkaca-kaca, menahan tangis,"Tahun ini tidak bisa membayar zakat."

Dia hampir saja menangis karena tidak bisa membayar zakat.

Aku tahu, kesenangannya memberi tidak hilang meskipun kondisi sangat menghimpit. Dia tak mau dikasihani, tatapan iba membuat hatinya teriris.

Sungguh, dia wanita yang memiliki harga diri dan pantang meminta-minta, bahkan dalam situasi yang sulit dia tetap membantu saudaranya yang kesusahan.

Wanita itu ibuku. Wanita tangguh berwajah ceria, dialah yang mengajariku makna menjaga harga diri.

Suatu ketika seorang teman yang memiliki banyak handphone hendak memberikan salah satu handphonenya, namun aku menolaknya.

Aku menceritakan hal itu pada ibu, dia berkata, "Jangan, biarpun susah jangan meminta-minta."

Masa-masa itu telah lewat, malam yang pekat berganti cahaya mentari. Dia telah mengajariku banyak hal.

Sumber gambar: Internet


Focus Private

Les Privat

Les Privat Focus Private adalah lembaga pendidikan yang mengkhususkan diri sebagai spesialis les privat guru ke rumah untuk mata pelajaran eksakta yaitu Matematika, Fisika, dan Kimia. Info 082312091982
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Total Tayangan Halaman