Asisten Rumah Tangga, antara Petaka atau Rezeki

Rasulullah SAW bersabda, “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi) 

"Aku mau cerai aja Bu! Rasanya jijik sama dia!" Wanita itu menangis terisak-isak di ujung saluran telepon,  menumpahkan semua keperihan hati yang sudah dia pendam selama bertahun-tahun. Hanya ibu dan ayahnya yang tulus mendampingi, mencoba tegar agar ananda tidak rapuh diterjang badai rumah tangga. 

"Sing sabar yo Nak ..." Ibu yang sudah memasuki usia senja itu berucap dengan suara bergetar, air matanya berjatuhan.

Perih hati orang tua saat melihat anak perempuan yang mereka sayangi diperlakukan sedemikian buruk, apalagi saat itu anaknya tengah hamil besar. Dunia seakan runtuh ketika memergoki suaminya sedang mencuci (maaf) celana dalam asisten rumah tangga (ART) yang bekerja di rumahnya. Diam-diam dia membawa barang itu ke laboratorium dan hasilnya membuat persendian tubuhnya seakan lepas satu persatu.

"Piye yo? Nek ora sabar bocahe wis tak suruh cerai ..."
(Bagaimana ya? kalau tidak sabar anaknya sudah kusuruh cerai ...)

"Ah! Wong iku pancen sampah!" Sang ayah geram.
(Ah! Orang itu memang sampah!)

Waktu berlalu, dia mencoba terus bertahan. Ayah dan ibunya berdoa tanpa putus. Allah yang memberi jalan keluar, ART itu akhirnya dipecat. Kabar terakhir yang terdengar ART yang dulu bekerja di rumahnya keguguran, berita santer beredar di sekitar komplek rumahnya. Beberapa saksi mata melihatnya tengah berpacaran dengan tukang ojek yang biasa mangkal di depan jalan.

Allah menggantikan dengan yang lebih baik, tiba-tiba seorang wanita tua datang meminta pekerjaan sebagai ART di rumahnya. Wanita yang santun, sayang dengan anak-anak, menerima gaji seadanya dengan ikhlas, dan baik perangainya. 


Cerita di atas hanya cerita fiksi yang terinspirasi setelah membaca rubrik konsultasi keluarga. Berbagai pernak-pernik kehidupan rumah tangga selalu menarik untuk diangkat.

ART seakan sudah menjadi kebutuhan, apalagi saat suami dan istri memutuskan untuk sama-sama bekerja. Namun memasukkan orang asing ke dalam rumah dan kehidupan kita bukan hal sederhana. Alih-alih menjadi solusi justru mendatangkan masalah.

Kita perlu mempertimbangkannya masak-masak, baik buruknya dan selektif dalam memilih. Saat kita memutuskan untuk mempekerjakan ART-terutama untuk ART yang tinggal menginap di rumah-, kita perlu membuat aturan yang perlu disepakati.

Misalnya, ART menutup auratnya dengan rapi selama berada di dalam rumah, menjaga batasan interaksi dengan anggota keluarga kita yang bukan muhrimnya, meminta izin saat akan masuk ke kamar anggota keluarga, dan peraturan-peraturan syar'i yang lainnya.

Akan lebih aman jika kita memperkerjakan ART yang tidak menginap, hanya setengah hari. Dia bekerja di rumah saat suami bekerja dan anak-anak di sekolah. Sore hari ketika suami dan anak-anak pulang ke rumah, dia sudah menuntaskan pekerjaan lalu kembali ke rumahnya. Interaksi ART dengan keluarga kita lebih terjaga. Di sisi lain privasi keluarga tidak terganggu.

Intinya, mendapat ART yang baik perangainya merupakan rezeki dari Allah, sementara ART yang buruk akhlaknya justru membawa petaka bagi keluarga kita.

Apa yang Kita Tanam Itulah yang Kita Panen

-- Saat Masih Kecil --

"Ummi, aku bantu nyuci piring ya ..." Anak itu menghampiri umminya yang tengah sibuk di dapur.
"Udah ga usah biar ummi aja," jawab umminya. Dia tidak mau diganggu anak saat berkutat dengan urusan dapur.

***
"Aduh ... ini siapa yang numpahin air. Bikin repot aja!" Teriakan ummi memecah kesejukan pagi.
Anak itu terdiam sejenak, kepalanya mendongak dengan senyum bangga di wajahnya, "Liat Mi, aku bantuin Ummi ngepel lantai."

Kenyataannya dia menumpahkan air seember hingga teras kebanjiran. Ummi terlalu sibuk, dia tidak sempat memikirkan niat baik anaknya--hanya ingin membantu, yang ada di benaknya cuma teras kotor yang menambah pekerjaan rumah.

***
Anak itu sedang sibuk memasukkan mainan ke kardus. Tiba-tiba ummi datang mengambil alih pekerjaan sang anak sembari berkata, "Udah ummi aja yang beresin mainan."

Saat itu ummi ingin rumah cepat bersih, tidak berantakan.

Padahal dalam hati kecil, sang anak berteriak protes. Dia ingin sekali membereskan mainan sendiri sampai tuntas. Dia merasa sudah bisa.



-- Saat Remaja --

"Mi, aku mau ikut Paskibra di sekolah."
"Udah ga usah ikut, nanti kamu kecapean, panas lagi, bla ... bla ...bla ..."

Anak itu termasuk penurut, dia selalu mendengar apa kata ummi. Akhirnya niat itu diurungkan.

***
Suatu ketika akan ada acara keluarga di rumah. Ummi sibuk membereskan rumah. Anak itu menawarkan diri, "Mi, biar aku aja yang pesen katering. Menunya apa aja?"
"Udah ga usah, nanti malah salah pesen lagi. Biar ummi aja."

Lagi-lagi anak itu hanya terdiam.

-- Setelah Dewasa --

Kini anak itu telah dewasa, dia memasuki usia 30 tahunan. Pekerjaannya sehari-hari hanya berdiam diri di rumah, bermain catur, nongkrong, dan mengobrol kesana kemari.

Umminya sudah semakin lanjut, tubuhnya ringkih, dan tidak kuat melakukan aktivitas sendiri.

Suatu ketika ummi berkata, "Nak, tolong beli beras di warung."
"Suruh aja pembantu Mi, warungnya kan jauh ... nanti aku capek lagi."
"Si Mbak lagi pergi ..."
"Ya udah nunggu Si Mbak pulang aja baru suruh dia beli beras," jawab anak itu sembari menyeruput kopi.

Ada luka yang tertoreh, ummi sedih karena permintaan tolongnya ditolak. Sembari menghela napas ummi duduk di samping sang anak. Sudah sejak setahun yang lalu anaknya menganggur, luntang-lantung tanpa pekerjaan.

"Nak, kamu enggak nyoba ngelamar kerja lagi?"
"Buat apa Mi? Paling juga ditolak."
"Lha kamu, setiap dapat pekerjaan enggak pernah betah. Baru sebulan kerja udah mundur ... begitu terus."
"Abis gimana, jam kerjanya ga cocok, bosnya galak, bla ... bla .. bla." Dia mulai mengeluh.
"Ya udah, kalo ga mau kerja di kantoran biar ummi modalin aja. Kamu buka usaha gimana?"
"Enggak deh Mi, nanti gagal lagi ... aku kan ga pinter bisnis."

Anak itu kembali menyeruput kopi. Ummi beranjak ke teras matanya menangkap bayang-bayang rumput taman yang sudah tinggi.

"Nak, itu rumput sudah panjang ... kayaknya udah waktunya dipotong." Ummi tidak berani meminta tolong secara langsung. Dia takut ditolak.
"Besok-besok aja ya Mi, aku mau istirahat dulu."

Padahal sedari pagi anak itu hanya duduk-duduk di dalam rumah. Tak terasa bulir air mata membasahi pipi ummi. Dia terus membatin, "Kenapa anakku jadi begini?"

Dia sangat khawatir dengan kondisi anaknya yang tidak bisa diandalkan, jangankan bertanggung jawab atas pekerjaan yang ada di pundaknya, bertanggung jawab terhadap diri sendiri saja belum bisa. Tidak tahan banting dan selalu merasa gagal.

***
Ummi, siapakah yang mematikan inisiatifnya untuk menolong orang lain? siapa yang membentuknya menjadi orang yang tidak peka dengan lingkungan? siapa yang menghancurkan harga dirinya? siapa yang melatihnya menjadi pemalas?

Saat membuat tulisan ini rasanya seperti berdiri di depan cermin.

Senja di Persimpangan Jalan

Dia, menembus kepulan asap kendaraan ibukota. Tubuhnya gemulai meliuk-liuk dengan sound system kecil yang sudah usang, suaranya tertelan bising klakson mobil. Sebagian orang menatapnya sinis, sebagian terlalu sibuk dengan gadget mahal, sementara sepasang wanita berbisik-bisik dengan senyuman masam di wajahnya.

Dari jarak beberapa meter kulihat wajah itu, tatapan sayu tak bercahaya di balik maskara, rambut dicat merah tergerai sebahu, lukisan kutex berwarna merah jambu dan lipstik merah menyala. Dia berdendang, bercanda dengan rekan-rekannya di taman kota, seakan hidup tanpa masalah. Sesekali kuperhatikan dadanya yang bidang terbalut t-shirt merah jambu nan ketat, dengan lengan yang berisi dan ditumbuhi bulu tipis. Sepatu hak tingginya tidak dapat menutupi kesan kekar di betisnya.

ilustrasi: www.lovethispic.com

Pikiranku melayang ... jauh sekali dari tempat itu. Sepintas wajah yang sangat kukenal mengusik batin. Ah ... wajah itu. Setiap kali mengingatnya hati ini teriris ingin menangis. Dia juga memiliki mata yang sayu, berbagai pulasan kosmetik penghias wajah tidak dapat menutupi kegelisahan di dalam hatinya. Dia juga memiliki rambut yang tergerai panjang dengan jakun yang menonjol.

Aku tidak tahu bagaimana saat ini dia menghabiskan waktunya, mengurung diri di dalam kamar. Aku membayangkan dia tengah berhias dan tak puas-puasnya mematut di depan kaca. Berjalan mondar-mandir dengan sepatu stiletto setinggi tujuh sentimeter. Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara membangunkannya dari mimpi tak berujung. Dia seperti hidup di dunia yang penuh fatamorgana.

Ah ... sepasang wanita yang semula berbisik dengan senyuman masam di wajahnya kini telah beranjak pergi. Biarkan saja mereka. Apa peduliku?

Matahari mulai tenggelam di ufuk senja, langit memerah seperti pipi gadis yang sedang tersipu-sipu. Jalanan ibukota masih tetap ramai. Pengamen itu kini duduk sendirian menatap langit yang sama. Dari kejauhan seorang gadis remaja jalan tergopoh-gopoh, wajahnya merah padam, nafasnya terengah-engah. Tiba-tiba saja dia berteriak-teriak penuh amarah. Aku berusaha memasang telinga, suaranya terdengar sayup-sayup diselingi deru kendaraan bermotor.

"Abang! Ternyata ..." Dia mengusap matanya berkali-kali, menahan air mata yang berjatuhan.

Pengamen itu tersentak, sound system tuanya terhempas ke jalanan beraspal. Dia hanya diam mematung dengan mulut terkunci.

Puluhan pasang mata merekam peristiwa itu, tak lama. Mereka kembali apatis, sibuk dengan urusannya sedniri. Gadis itu terduduk dengan punggung berguncang, dia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dari tempat ini aku bisa melihat ekspresi wajah Si Pengamen, alisnya tertaut ke atas, mulutnya bergetar, bulir-bulir air mata mengalir, menyisakan goresan hitam maskara yang luntur.

Aku memalingkan wajah. Ah ... hati ini seperti dipukul godam berkali-kali. Hancur menjadi serpihan kecil. Teriakan-teriakan itu kembali terngiang-ngiang di telinga.

"Ini melawan takdir!" Aku berteriak memecah keheningan malam.
"Okey, terus kamu bisa apa!" Dia berteriak tidak kalah keras.

Hampir saja aku membuang semua kosmetik, pernak-pernik, dan semua barang-barangnya keluar kamar. Perasaanku bercampur aduk, marah, sedih, kecewa, bercampur peduli dan sayang. Aku tak tahu lagi bagaimana cara melukiskannya.

Seorang wanita tua dengan bola mata yang kelabu datang bergegas, suaranya bergetar, "Sudah! Sudah!

Air matanya berjatuhan, dia bersimpuh di hadapan kami.

"Sudah ..." Suaranya semakin melemah. Dia berusaha menahan isak tangis di dadanya.

Aku pergi menjauh. Rasanya ingin berlari, berteriak, dan melampiaskan semuanya. Jika bukan karena ibu ... jika bukan karena ibu ...

Tak terasa air mata membasahi pipi. Matahari sudah tenggelam dengan sempurna. Aku beranjak dengan langkah lesu. Berharap kelak ada cahaya di hati mereka, berharap mereka menjalani kehidupan yang lurus dan menenangkan.

Jakarta, 7 Juli 2015
#Tolak LGBT
#Rangkul dan kembalikan mereka


Darah di Rabiah Al-Adawiyah

Shafiyah, gadis Mesir bermata biru dan hidung yang mancung, duduk tertegun di depan laptop. Sudah berulangkali dia memutar video rekaman itu. Suara gemersik pidato Presiden Mursi memecah keheningan siang, di rumah Shafiyah.
   
Al-Qur’an adalah undang-undang kami
Dan Rasul adalah pemimpin kami
Dan jihad adalah jalan kami
Dan mati fii sabilillah adalah cita-cita mulia kami
Dan di atas itu semua, Allah adalah tujuan kami


Pikiran Shafiyah melayang-layang, sudah beberapa hari terakhir dia terus mengikuti perkembangan politik di Mesir melalui berita-berita di televisi. Upaya penggulingan Presiden Mursi sudah beberapa kali dilakukan namun selalu gagal. Situasi semakin memanas, pihak oposisi mulai menggunakan kekerasan.

Bip! Bip! Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Shafiyah. Dia menggapai ponsel itu, membaca pesan yang masuk. Paras cantiknya tampak serius, seakan pesan itu berisi berita yang sangat penting. Lama dia pandangi layar ponsel, diriingi suara riuh rendah pendukung Presiden Mursi yang terdengar dari loadspeaker laptop.

Besok Mursi bebaskan Gaza
Aku orang Mesir bangga dengannya
Jutaan syuhada bergerak menuju Al-Quds
Ayolah wahai perindu syahid!


Shafiyah mengambil nafas panjang, dengan suara lirih dia berujar, “Ya Allah, besok saatnya. Mudahkanlah langkah kaki kami, lindungi kami dari perbuatan orang-orang yang zalim...”

***
sumber gambar: Internet

Ratusan ribu pendukung Presiden Mursi tumpah ruah ke jalan-jalan raya. Salah satu diantaranya Shafiyah, jilbab hitam dan abayanya yang panjang berkibar-kibar. Dia bergabung bersama muslimah yang lainnya melakukan aksi damai sebagai respon menolak aksi kekerasan yang dilakukan oleh oposisi selama beberapa waktu terakhir.
 
Dia menutup wajahnya dengan selembar sapu tangan, panas teriknya Kota Kairo tidak menyurutkan semangatnya. Dia sadar tujuannya turun ke jalan bukan karena membela seorang tokoh, dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang dia hadapi.
 
Para demonstran tanpa senjata itu melakukan aksi damai selama berhari-hari. Mereka mendirikan tenda-tenda untuk bermalam, termasuk Shafiyah. Dia tinggal di sebuah tenda demonstran di dekat bundaran Rabah Adaweyah.
 
Saat itu bulan Ramadhan, Shafiyah tengah bersiap-siap menyiapkan makanan berbuka puasa bersama muslimah yang lain. Di tengah-tengah aktivitasnya, dia mengobrol dengan temannya sesama demonstran.
   
“Apa keluargamu tahu saat ini kamu berada di sini?” Tanya seorang muslimah sambil mempersiapkan roti dan kacang-kacangan.
 
“Ya, aku selalu meminta ijin kepada orang tua... mereka berpesan agar aku berhati-hati. Ayah juga sudah berpesan kepada kakakku Haris, agar dia mengawasiku.”

“Aku tidak tahu sampai kapan akan bertahan di sini, kita akan terus memperjuangkannya... kau lihat ini!” Wanita itu menyingkap lengan bajunya, ada goresan sepidol berwarna hitam bertuliskan identitas diri di lengannya.

“Untuk apa kau lakukan itu?” Tanya Shafiyah

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya... aku sengaja menuliskannya,  jika sewaktu-waktu aku mati, ada yang mengenali jenazahku.”

Shafiyah diam, terpana. Ditatapnya wanita setengah baya dihadapannya. Sudah lama Sahfiyah mengenalnya, wanita itu hafal seluruh isi Al-Qur’an. Di dalam hati kecilnya, Shafiyah mengagumi ketangguhan dan keshalihannya. Shafiyah menjadi paham, kematian bisa datang kapan saja tanpa diduga. Jika sewaktu-waktu terjadi bentrokan, bukan tak mungkin dia menjadi salah satu korbannya.

“Bolehkah aku pinjam sepidolmu?”

Shafiyah menjulurkan tangannya mengambil sepidol hitam, perlahan-lahan dia gulung lengan bajunya.
   
    Shafiyah Azalea
    43 El Jadid Street, Maadi


Ditutupnya kembali lengan baju itu, dia bergegas membawa makanan untuk berbuka. Suara adzan berkumandang dari Masjid Rabah Adaweyah, di dekat tenda demonstran. Menandakan waktu berbuka puasa telah tiba.

***
   
Malam semakin larut, suasana sangat hening. Sunyi. Shafiyah belum juga tidur, dia mengambil air wudhu dan mulai membaca Al-Qur’an. Bukan hanya Shafiyah yang melakukannya para demonstran di tenda yang lain tengah khusyuk mendirikan shalat malam.

Sementara itu tak jauh dari sana, tentara-tentara bersenjata mengendap-endap menembus gelapnya malam. Mereka menaiki atap-atap imarah atau apartemen, bersiap siaga dengan senjata berpeluru tajam, tank-tank berbaris di tempat tersembunyi, beberapa bersiap siaga dengan gas air mata. Jumlah mereka sangat banyak, mungkin ratusan atau ribuan. Tidak! Bisa saja ratusan ribu.
   
Salah satu diantara mereka adalah Haris, kakak Shafiyah. Matanya menatap tajam. Waspada. Digenggamnya erat senapan M16. Suasana sangat sunyi, hanya terdengar detak jam tangan Haris. Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Semua pasukan dalam keadaan siap siaga mengintai target. 

Adzan subuh berkumandang dari Masjid Rabah Adaweyah, para demonstran berbondong-bondong menuju masjid. Mereka membentuk barisan shalat yang lurus hingga ke jalan-jalan. Mereka tampak seperti benteng yang kokoh.

“Allahuakbar...” Imam takbir rakaat pertama.

Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an terdengar syahdu, lembut menyapa hati-hati yang masih hidup, 
“Bismillahirrahmanirrahim...Alhamdulillahi rabbil alamin... Arrahmaanirrahiim... Maaliki yaumiddiin...”

Dor! Dor! Suara-suara tembakan diiringi serangan gas air mata menyerang demonstran yang sedang shalat. Shafiyah terhenyak, dia sedang shalat subuh bersama jama’ah muslimah di tenda-tenda. Satu persatu tubuh jama’ah shalat di Masjid Rabah Adaweyah berjatuhan, suasana kacau balau mereka berlari melindungi diri.
 
Shafiyah berlari keluar, matanya perih terkena gas air mata. Dia tak dapat melihat dengan jelas, sekilas dilihatnya seorang kakek tua ditembak kepalanya, orang-orang diciduk dan diseret paksa menuju mobil-mobil tentara. Mereka yang bersembunyi di belakang tong sampah dibawa setelah dipukuli.
 
Shafiyah berlari tak tentu arah. Allahuakbar! Allahuakbar! Dia tak kuasa melihat darah yang berceeran di jalan-jalan. Bruk! Tiba-tiba dia menabrak seseorang, Shafiyah tercekat melihat pria berseragam militer itu. Wajahnya sangat sangar tanpa belas kasihan. Pria itu menyeret jilbab Shafiyah.

“Lepaskan aku!” Shafiyah terus meronta-ronta.

Tapi apa daya tenaganya terlalu lemah. Aku akan dibawa kemana? Tiba-tiba terdengar suara rentetan tembakan. Pria itu tertembak tepat di tengkuknya. Dia tergeletak ke tanah. Shafiyah berteriak histeris, dia menutup wajahnya dengan kain jilbab. Tubuhnya lemas bergetar, sepercik darah segar mengenai abayanya.

Seorang pria menyambar tubuhnya, membawanya berlari secepat mungkin. Shafiyah masih menutupi wajahnya. Dia berlari terseok-seok. Mereka pergi menjauh dari pusat kekacauan. Sementara itu sepasang mata mengawasi gerak-gerik mereka tanpa mereka sadari.

“Shafiyah, ini Haris. Kakakmu.”

“Kakak...” Shafiyah berlinangan air mata, dia tak pernah menyangka akan mengalami tragedi seperti hari itu. Melihat orang-orang dibunuh di depan matanya.

“Pergilah ke tempat yang jauh! Mereka akan membakar tenda-tenda demonstran.”

Apa?! Aku harus memberitahu yang lain!

Kakak, kepada siapa engkau berpihak?”
   
Haris hanya terdiam. Raut wajahnya sendu, dia berbalik dan menghilang ke tengah-tengah kekacauan. Shafiyah kembali menembus kekacauan, dia menuju ke tenda-tenda untuk memberitahu demonstran yang lain. Dia terus berlari tertatih-tatih dari satu tenda ke tenda lain, memberi peringatan agar mereka segera menyingkir ke tempat yang aman.

Hingga tiba di tenda kelima, Shafiyah mencium bau bensin yang menyengat. Jantungnya berdegup semakin kencang, “Ayo cepat pergi dari sini!”

Para muslimah berlari berhamburan. Terlambat, tenda-tenda itu sudah dibakar. Api menyala-nyala membumbung tinggi, menjilati angkasa Kota Kairo. Shafiyah bersama beberapa orang muslimah terkepung api. Mereka saling berpelukan. Dada Shafiyah mulai terasa sesak karena banyak mengirup asap.

Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan syahid. Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah.

Sementara itu nan jauh di sana Haris tengah terlibat perkelahian dengan anggota tentara yang lain. Dia dikeroyok habis-habisan. Mereka memukuli Haris sambil memaki-maki.

“Dasar pengkhianat!” Salah satu dari mereka berteriak. Buak! Popor senjata menghantam pelipis Haris. Dia terjerembab ke tanah dengan darah bercucuran.

“Katakan! Kepada siapa engkau berpihak?!”

“Lebih baik aku mati, daripada membunuh orang yang sedang shalat...” Ucapnya lirih ditatapnya dalam-dalam mata lawannya. Seketika mereka menjadi berang, salah satu dari mereka bersiap-siap menarik pelatuk senapan.

Dor! Peluru tajam meluncur dari moncong senapan, tepat mengenai dada Haris. Dalam keadaan sekarat, Haris teringat dengan ayahnya.

“Haris, saat ini kamu telah resmi menjadi anggota militer... ditanganmu ada senjata, janganlah kau tumpahkan darah kaum muslimin.” Ucap ayah Haris seusai acara pelantikan resmi anggota militer Mesir.

“Ya Ayah, aku sudah berjanji kepada Allah... tidak akan menumpahkan darah kaum muslimin.”

“Ayah percaya, kelak kamu akan menjadi mujahid...” Ucap ayah Haris dengan mata berkaca-kaca.

Nafas Haris mulai terputus-putus, kaki dan sekujur tubuhnya terasa dingin sedingin es. Pandangan matanya mulai kabur, semakin lama semakin gelap.

Ya Allah, saksikanlah bahwa hari ini aku telah menepati janji... hari ini tak ada setetes darah pun dari kaum muslimin yang aku tumpahkan. Jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang  yang menepati janjinya kepada-Mu.

Suatu Malam di Kota Mbaiki

Hari itu aku menuju Kota Bangui, Ibukota Negara Afrika Tengah untuk mengantarkan barang dagangan. Jalanan antara kota Mbaiki-Bangui tampak sepi dan lengang, lain dari biasanya. Hanya sedikit kendaraan yang lalu lalang, biasanya bis-bis, truk, bahkan sampai gerobak keledai lalu lalang dengan aktivitasnya masing-masing. Toko-toko di sepanjang jalan tutup, tak ada orang yang berjalan di pinggir jalan, dan penduduk mengunci pintu juga menutup jendela rumahnya.

Ada apa gerangan? Tapi hari itu aku sudah berjanji akan mengantarkan barang dagangan ke rekan bisnis di Bangui. Ya, Aku seorang pedagang bumbu-bumbu dapur yang sudah dihaluskan. Sudah sejak puluhan tahun yang lalu aku menekuninya, selama seminggu sekali menempuh perjalanan sepanjang 100 kilometer dari Mbaiki-Bangui dengan sepeda motor.

Hanya tinggal 30 kilometer lagi aku akan memasuki Bangui, tapi tiba-tiba di tengah perjalanan beberapa orang polisi mencegat motorku.
   
“Anda tidak bisa memasuki Bangui hari ini, terlalu berbahaya. Berbalik arahlah!”
   
“Apa yang terjadi?”
   
“Ada kerusuhan hebat.”
   
Tak ada pilihan lain, sangat berbahaya jika memaksa menempuh perjalanan. Akhirnya aku kembali pulang ke rumah dengan barang dagangan yang masih terikat rapi di jok motor. Setiba di rumah aku menelepon rekan bisnis.
   
“Assalamu’alaikum, Abdalla... ini Ahmadou.”
   
“Walaikum salam...” Jawab suara di ujung sana, suara-suara gaduh dan teriakan orang-orang membuat suara Abdalla tidak terdengar dengar jelas.
   
“Maaf, hari ini aku tidak bisa mengantarkan pesananmu... dalam perjalanan, polisi melarang aku memasuki Bangui.”
   
“Ya, kondisi di sini memang sangat gawat... orang-orang muslim dibunuh, tak peduli wanita dan anak-anak, masjid-masjid dibakar... aku sendiri hanya bisa pasrah kepada Allah...” Suara di ujung telepon mulai terputus-putus.
   
“Di mana kamu sekarang?”
   
“Aku berlindung di dalam toko.” Tiba-tiba saja sambungan telepon terputus.
   
Mendengar berita itu membuatku mengkhawatirkan kondisi Abdalla. Semoga dia baik-baik saja. Kondisi di Afrika Tengah semakin memburuk semenjak Seleka yang merebut kepemimpinan di Afrika Tengah membubarkan diri. Milisi-milisi atau kelompok sipil bersenjata tumbuh bagaikan jamur, mereka merajalela. Menyerang kota-kota, membunuh dan menjarah rumah-rumah penduduk. Ah, aku tak tahu bagaimana kekacauan ini bisa berkembang biak.
   
Aku mulai membuka ikatan karung yang berisi barang dagangan, lalu memanggulnya masuk ke dalam toko sekaligus rumah lalu menuangkan isi karung ke kotak-kotak berbaris tempat bumbu-bumbu dapur untuk dijual. Ya, akhirnya barang dagangan itu aku jual sendiri. Tak ada kepastian kapan kondisi Bangui akan aman kembali.
   
Malam menyapa Kota Mbaiki, sudah menjadi rutinitasku saat malam tiba waktunya berkumpul dengan istri dan anak. Menikmati hidangan Fufu hangat yang dimasak istriku, sambil menyantap kami biasa menonton televisi. Putriku yang mulai beranjak dewasa menekan remote televisi menampilkan acara berita.
   
Kondisi Kota Bangui semakin memanas, para milisi merangsek ke dalam kota pada pagi hari pukul 06.00 dan kerusuhan terus berlangsung hingga malam ini. Sedikitnya 70 orang tewas dan 94 orang luka-luka. Sebagian besar korban mengalami luka akibat tebasan parang. Beberapa korban diantaranya wanita dan anak-anak. Para korban dilarikan ke rumah sakit terdekat.
   
Aku terdiam menyaksikan berita itu, layar televisi sedang menayangkan gambar korban-korban yang bergelimpangan di koridor rumah sakit. Korban-korban tewas dijejer berbaris di lantai dengan darah yang masih mengucur deras. Membuat lantai rumah sakit berubah warna menjadi merah. Sekilas aku melihat Abdalla, sedang duduk merintih kesakitan dengan kepala diperban. Salah seorang reporter menghampirinya untuk wawancara.
   
“Saat itu masih pagi hari, aku berniat untuk membuka toko. Namun saat aku melihat keluar, dari kejauhan rombongan orang-orang bersenjata berlari dengan cepat. Mereka berteriak-teriak sambil mengangkat parangnya seperti kesetanan...para warga berlari melindungi diri. Aku melihat seorang pria ditebas kepalanya. Dalam keadaan panik aku segera mengunci semua pintu dan jendela... beberapa jam kemudian mereka mulai mendobrak pintu tokoku...kami terlibat perkelahian. Syukurlah aku masih selamat”
   
“Berapa orang jumlah mereka?” Tanya repoter.
   
“Entahlah mungkin puluhan orang...”
   
Berita beralih menangkap gambar suasana Kota Bangui saat itu, aku melihat sebuah masjid sedang terbakar. Kaca-kacanya pecah berserakan di lantai. Sekumpulan orang dengan parangnya tampak lalu lalang di halaman masjid. Mereka sangat beringas. Sementara itu putriku serius mendengarkan, matanya tak beralih dari televisi.
Sambil menonton dia bertanya padaku, “Ayah, kenapa mereka dibunuh? Kenapa masjid-masjid dibakar?”

“Ayah juga tidak tahu, Nak... Ayah hanya pedagang biasa.” Rasanya terlalu rumit menjelaskan semua kejadian yang dilihat putriku, kondisi politik di Afrika Tengah selama beberapa tahun terakhir memang tidak berjalan mulus. Aku sendiri tidak mengerti mengapa kondisi itu jadi berkembang ke pengusiran dan pembunuhan muslim di Afrika Tengah. Seiring waktu berjalan putriku akan mengerti.

Hanya gambar ilustrasi

                                                 ***

Siang itu aku menuju ke Masjid Lobaye untuk Shalat Jum’at, seorang imam masjid naik ke mimbar. Dia imam masjid sekaligus wakil walikota Mbaiki.  Sesaat kemudian dia mulai mengisi kutbah dengan wajah menyiratkan kesedihan.

“Saudara-saudaraku, beberapa hari yang lalu telah terjadi tragedi kemanusiaan di Kota Bangui. Banyak saudara-saudara kita yang tewas, sisanya mengungsi dan keluar dari Afrika Tengah, masjid-masjid dibakar, dan toko-toko dijarah. Setelah Shalat Jum’at kita akan melaksanakan Shalat Ghaib untuk mendoakan saudara-saudara kita yang telah tiada.”

Para jama’ah Shalat Jum’at larut dalam kesedihan, seorang jama’ah yang duduk di sampingku bahkan menangis sampai menetes air di hidungnya. Usianya tak lagi muda, kepalanya sudah ditutupi uban, dan kulit tangannya keriput. Aku pun merasakan kepedihan yang sama, seusai Shalat Ghaib aku menyempatkan diri untuk mengobrol dengannya.

“Kek, tadi aku melihat Kakek menangis...” Ucapku dengan nada bicara berhati-hati.

“Dua hari yang lalu anakku baru saja meninggal setelah dirawat di rumah sakit, dia menjadi salah satu korban kebrutalan mereka... anakku tinggal di sebuah desa kecil, kira-kira 50 km dari Kota Bangui.”

“Jadi kerusuhan sudah mulai meluas ke pinggiran kota?”

“Ya, bukan tidak mungkin mereka akan merangsek ke tempat kita tinggal, Mbaiki... esok aku mengungsi ke negara lain.” Kakek itu mengusap sudut-sudut matanya, air mata bening masih jatuh membasahi pipinya yang tirus.

Sepulang dari masjid aku melihat kesibukan beberapa orang tetangga yang hendak mengungsi, sepertinya berita tentang meluasnya kerusuhan sudah tersebar dari mulut ke mulut. Mereka menumpuk barang-barangnya menjadi satu ke dalam truk, saat aku tiba mereka menghampiri untuk berpamitan. Sedih rasanya kehilangan tetangga yang sudah menjadi bagian dari hidupku.

Gelombang pengungsi semakin hari semakin meningkat. Setiap harinya selalu ada yang pergi meninggalkan Mbaiki. Beberapa truk berbaris, mereka berjejalan di atasnya bersama barang-barang. Sampai hari itu hanya tersisa tiga keluarga, termasuk keluargaku.

Aku sendiri mengkhawatirkan keselamatan anak dan istri. Hanya saja berat rasanya meninggalkan Mbaiki. Bagaimana tidak? Di tempat inilah aku dilahirkan dan membesarkan anakku. Rasanya tidak terbayang harus pergi meninggalkan tanah air ke tempat yang antah berantah. Para tetangga yang tersisa terus membujukku untuk ikut mengungsi, tapi aku masih ingin bertahan di Mbaiki. Biarlah anak dan istriku saja yang mengungsi.

Esok harinya di tengah-tengah kawalan ketat polisi truk-truk berbaris, bersiap-siap untuk mengungsikan keluargaku dan tetangga yang masih tersisa.

Sebelum menaiki truk istriku berkata, “Jika berubah pikiran susul kami ke Sudan.” Matanya berkaca-kaca, dia menggenggam erat tanganku. Aku hanya mengangguk perlahan.

“Jaga putri kita.”

“Apa kamu yakin tidak ingin ikut dengan kami? Ini rombongan yang terakhir... tak ada lagi muslim di Kota Mbaiki selain dirimu...” Ucap salah seorang tetangga.

“Tak apa, pergilah!” Aku berusaha meyakinkan mereka.

Mesin truk dinyalakan, perlahan-lahan truk itu pergi meninggalkanku. Sendirian. Dari kejauhan aku lihat putriku membenamkan wajahnya ke pelukan istriku. Ya, sudah sejak semalam sebelumnya dia menangis tanpa henti saat mengetahui akan berpisah denganku.

                                                   ***

Semburat jingga menghiasi langit Mbaiki, suasana sore itu sangat hening. Kota itu tak lagi sama seperti Kota Mbaiki yang kukenal. Aku memacu sepeda motor melewati Masjid Lobaye, tak ada lagi suara-suara anak kecil yang tertawa riang. Biasanya di sore hari anak-anak berkumpul di masjid untuk mengaji.

Aku menghela nafas, beberapa meter kemudian tampak rumah sekaligus tokoku. Aku memasukkan motor ke dalam rumah, tiba-tiba saja kesepian mendera. Biasanya saat tiba di rumah ada anak dan istri yang menyambut hangat. Ah, kutepis saja semua rasa itu.

Malam semakin larut, aku berada di dalam rumah sambil menyiapkan parang untuk berjaga-jaga. Semua pintu dan jendela dalam keadaan terkunci. Aku tidur di ruang tamu sambil memeluk parang. Tiba-tiba suara langkah-langkah kaki terdengar, semakin lama semakin dekat.

Aku terperanjat. Waspada. Jam dinding menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Mataku mengintip dari jendela, mencari sumber suara. Tiba-tiba saja bayangan beberapa orang berkelebat di halaman rumahku. Aku terlonjak mundur selangkah dari jendela, dada bergemuruh, dan mata terbelalak. Jantungku berdetak sangat kencang.

Mereka semakin mendekat! Aku menggenggam erat parang yang sudah diasah sejak kemarin. Brak! Brak! Mereka berusaha mendobrak pintu. Prang! Kaca jendela dipecahkan. Aku bersiap-siap mengambil posisi menyerang.

“Woaaaa! Woaaa!” Mereka berhasil masuk ke dalam rumah dan berteriak-teriak, parang-parang itu berkilauan terkena cahaya lampu rumah. Aku terus bertahan melancarkan serangan beberapa dari mereka terjerembab ke tanah setelah terkena sabetan parangku.

Kondisi semakin genting, beberapa kawan mereka berdatangan setelah mendengar keributan, aku terdesak masuk ke dalam toko. Tiba-tiba saja sabetan parang  salah seorang dari mereka mengenai lengan dan kakiku.

“Aaaa!” Aku menjerit kesakitan, senjataku terjatuh ke lantai.

Mereka seperti kanibal yang ingin mengunyahku, aku terduduk di lantai. Sedikit demi sedikit mereka melangkah semakin dekat. Tiba-tiba tanganku menyentuh bumbu-bumbu halus yang terusun di kotak berbaris.

Ini bubuk cabai! Aku menggenggam bubuk itu sebanyak-banyaknya. Bagus teruslah mendekat! Mata mereka merah beringas, salah seorang dari mereka mengangkat parangnya tinggi-tinggi.

Ini saat yang tepat! Ya Allah, tolonglah hamba. Dalam hitungan detik aku melempar bubuk cabai itu ke mata mereka. Tak ada satu pun dari yang luput. Mereka menjerit kesakitan dan saling melukai, karena mengira temannya adalah diriku. Mereka tidak dapat melihat dengan jelas.

Dengan langkah terseok-seok aku memaksakan dari berlari ke motor. Tak lama motor itu melaju menyusuri jalanan Kota Mbaiki dengan kecepatan penuh. Saat itu aku akan berlindung ke kantor polisi. Nahas, motorku mogok di jalan. Padahal kantor polisi hanya tinggal beberapa meter lagi. Darah mengucur deras dari kaki dan lenganku, sambil menyeret kaki aku berjalan perlahan ke kantor polisi. Tiba-tiba saja beberapa orang milisi menghadangku. Mereka tersenyum sinis.

Mereka terus memukuli, tak ada lagi tenaga yang tersisa untuk melawan. Dalam keadaan setengah sadar mereka menarik kedua kaki dan tanganku. Samar-samar kulihat mereka mengangkat parangnya. Ya Allah, tolonglah hamba!

                                                ***

Truk itu mengantri di pintu perbatasan Afrika Tengah-Sudan, sudah hampir sepuluh jam aku berdiri di truk berjejalan dengan pengungsi dari kota-kota lain sekitar Bangui. Aku menatap langit Afrika Tengah untuk terakhir kalinya sebelum memasuki Sudan.

Luka-luka akibat perkelahian masih menyisakan nyeri yang amat sangat. Malam itu dalam keadaan setengah sadar sayup-sayup kudengar jeritan-jeritan histeris anggota milisi. Tiba-tiba saja mereka terpental dengan sendirinya beberapa meter ke udara, sementara aku tergeletak tak berdaya di tengah jalan. Suara-suara keras terdengar, seperti bunyi godam raksasa yang menghantam. Aku sendiri tak kuasa mendengarnya. Mereka merintih kesakitan, tak lama setelah itu tak ada lagi suara yang terdengar. Sunyi.

Aku ditemukan oleh beberapa orang anggota polisi dan dibawa ke rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit mereka bertanya padaku, “Apa yang sudah kau lakukan terhadap kelompok milisi itu?”

Aku terbengong-bengong, tak mengerti maksud ucapan mereka, “Aku tidak melakukan apa-apa... ketika itu kesadaranku sedang menurun karena kehabisan banyak darah.”

“Kami menemukan kelompok milisi itu bergelimpangan di sekitarmu dengan wajah yang rusak dan tidak dapat dikenali... seakan-akan wajah mereka habis dihantam benda yang sangat keras.”

Saat itu aku tertegun mendengarnya, mungkinkah Allah SWT mengirimkan pasukan-Nya? Tiba-tiba saja air mata mengalir deras, membuat wajahku basah.

                                               ***
NB:

Fufu: Makanan khas Afrika Tengah berupa sup kacang.

*Cerpen ini terinspirasi dari artikel berita yang pernah dirilis dakwatuna.com yang berjudul Saleh Dido, Muslim Terakhir di Kota Mbaiki.

Kata Si Togar

Siang itu ada yang beda dengan suasana di lapangan belakang SMA Kacrut.
 
Satu geng cewek tengah bergerombol dengan tampang siap perang. Sementara di tengahnya ada seorang cewek yang lagi ketakutan.
Sariyem dan Ponirah diam-diam mengintip dari gang dekat lapangan. Mereka berbisik-bisik.
 
"Duh! Bakalan perang lagi nih Rah. Kasian tuh anak mau dikeroyok."
 
"Iya nih, eike rekam aja deh di HP biar pada kapok!" Sariyem geram.
 
Enggak beda lama  geng mereka mulai mengejek, lalu creambath-creambathan--jambak-jambakkan maksudnya.
 
Cakar sana, cakar sini. Sampai mukanya coreng-moreng. Setelah puas merekam Sariyem dan Ponirah ngibrit secepat jet coaster di Dufan.
 
"Istirahat dulu yuk!" Ponirah ngos-ngosan. Dia ngajak mampir ke warung baksonya Bang Togar.
 
"Ee...kenapa kalian pada ngos-ngosan? Abis dikejar tukang tagih utang ya?" celetuk Bang Togar dengan logat Batak yang asli kental banget.
 
"Ah! Bisa aja Bang, kita abis jadi saksi mata peristiwa penting nih!" Sariyem sok-sokan jadi detektif.
 
"Peristiwa apa pula yang kau maksud?" Bang Togar makin penasaran.
 
"Sebelum kita tunjukkin, pesen baksonya dua porsi ya Bang!"
 
Bang Togar nurut aja sama duo centil itu. Padahal tampangnya sangar, rambutnya gondrong dikuncir dua, ada gambar tato Cherrybel di lengannya.
 
Katanya sih dia mantan napi dan udah tobat. Sekarang kerjaannya jualan bakso.
 
Enggak beda lama dua mangkok bakso tersaji di depan Ponirah dan Sariyem.
 
Sontak Sariyem gagal fokus, perutnya langsung dangdutan mencium aroma bakso yang aduhai.
 
Ponirah juga langsung menyerbu bakso yang imut-imut itu. HP yang sedang memutar video rekaman kejadian tadi dia biarin ngegeletak di meja.
 
"Hmm..." Bang Togar manggut-manggut sambil mengintip video di HP Sariyem.
 
"Mau kau apakan video itu?" Telunjuk Bang Togar yang segede pisang kepok menunjuk HP Sariyem.
 
"Ini bukti penting, Bang! Eike dan Ponirah mau ngelaporin kelakuan mereka ke guru." Hidung Sariyem kembang-kempis, kayaknya dia bangga banget bisa dapetin bukti itu.
 
"Oh... itu namanya bullying! Macam mana anak baru gede udah bisa bullying?" Bang Togar geleng-geleng. Kunciran rambutnya sampai kena muka Ponirah.
 
Jelas aja Ponirah manyun, acara makannya terganggu wangi minyak rambutnya Bang Togar.
 
"Abang keren juga tau kata bullying," kata Ponirah sambil manyun.
 
"Ee... jangan salah! Dulu waktu di lapas abang pernah berobat sama psikolog!"
 
"Yah... Bang, berobat sama psikolog kok bangga?" Sariyem ikutan nimbrung.
 
"Paling enggak abang kecipratan ilmunya laahhh!"
 
"Emang bullying apaan Bang?" Ponirah penasaran.
 
"Bullying itu kalau kau sakiti orang, misalnya mengejek, memukul atau mengucilkan." Bang Togar tiba-tiba jadi serius.
 
"Mmm... pantes ada lagu judulnya sakitnya tuh di sini." Sariyem asal celetuk.
 
"Apa hubungannya Yem?" Ponirah rada-rada kesel. Sariyem cuma cengar-cengir.
 
Hari mulai sore. Matahari udah mulai sembunyi malu-malu. Bakso di mangkok duo centil udah ludes. Mereka masih asyik ngobrol sama Bang Togar.
 
"Kalo kalian liat temen dibully, setelah kejadian kalian ajak ngomong lah pelaku dan si korban. Jangan malah ikut-ikutan nge-bully korban. Kalo udah parah lapor aja ke sekolah." Bang Togar jadi ikut geram.
 
"Iya Bang, mereka udah dibilangin cuma enggak ngaruh. Nih mau minta tolong sama guru."
 
"Nah, bagus itu!"
 
Berhubung duo centil harus pulang. Mereka siap-siap bayar bakso.
 
"Rah! Dompet eike ilang!" Sariyem panik.
 
"Jangan-jangan jatoh waktu kita lari. Aku juga ga bawa duit."
Bang Togar mencium gelagat, kayaknya duo centil bakalan ngutang.
 
"Berhubung abang lagi baik, abang punya tebak-tebakkan. Kalo kalian bisa jawab enggak usah ngutang."
 
"Apa tuh Bang?"
 
"Bully, bully apa yang bikin abang seneng banget?"
 
Duo centil bengong, celingak-celinguk. Terus geleng-geleng kompak.
 
"Bully yang bikin abang seneng itu... 'Bang bully baksonya semangkok!' Akakakak." Bang Togar ngakak puas banget. Sampai urat lehernya nongol.
 
Sementara itu duo centil cuma garuk-garuk kepala.

sumber gambar: internet

Humaira, Gadis Cilik Suriah

          Humaira, gadis cilik berusia 12 tahun itu meringkuk ketakutan seraya memeluk Umar, adiknya yang masih berusia lima tahun. Mereka bersembunyi di dalam lemari di dapur rumahnya yang gelap tanpa listrik.

         “Kakak, aku takut sekali...” Umar berbisik pelan. Tubuhnya menggigil ketakutan dan ia mulai menangis.

         “Sst.. diamlah Umar, jangan menangis.” Ia membekap mulut Umar ,” Nanti kita bisa ketahuan.”

         Brak! Bug! Suara-suara keras pintu- pintu dibanting, diriingi derap langkah kaki bersepatu boot. Langkah-langkah berat itu semakin lama semakin mendekat. Mereka berdiri di depan lemari tempat Humaira bersembunyi. Humaira terus berdo’a di dalam hati,“Ya Allah, lindungilah kami dari kejahatan makhlukMu.”

         Mereka menyenter seluruh bagian ruangan. Prang! Piring-piring di dapur berjatuhan. Humaira, mengintip dari lubang kunci lemari di bawah wastafel tempat ibunya biasa mencuci. Mereka kira-kira berjumlah empat orang, lelaki berseragam militer dengan senapan laras panjang. Jantung Humaira berdetak keras, tangannya gemetaran dan keringat dingin membanjiri tubuh kurusnya. Sementara Umar, membenamkan wajahnya ke dada Humaira seraya memegangi celananya yang mulai basah karena air kencing.

         “Rumah ini kosong, ayo kita sisir rumah-rumah yang lain!” perintah pria bertubuh tinggi besar itu kepada anak buahnya.

         Humaira terduduk lemas di dalam lemari, sendi-sendi tubuhnya seakan tak kuat menopang. Ia berbisik pada Umar, “Kita sudah aman Umar, mereka sudah pergi.” Umar melepaskan tangisannya di pelukan Humaira.

         Kota Alepo, di bagian utara Suriah sudah seperti kota mati. Sejak peperangan dua tahun yang lalu. Rumah-rumah dan bangunan luluh lantak, rata dengan tanah. Laki-laki berseragam itu memang biasa menyisir rumah-rumah penduduk di Alepo.

         Ahmad, teman sekolah Humaira sudah tewas seminggu yang lalu. Seluruh keluarganya ditembaki membabi buta, mereka memuntahkan peluru-peluru tak tentu arah, merangsek ke dalam rumah dan mengetahui siapa saja anggota keluarganya, bahkan mereka hafal satu persatu namanya.



***

         Siang itu, matahari menyinari langit biru Alepo. Pakaian lusuh Humaira berkibar-kibar ditiup angin dari atas pohon. Sementara Umar duduk di bawah rimbunnya pohon seraya menantikan buah-buahan yang dipetik Humaira. Mereka memang biasa mengumpulkan makanan dari alam, belakangan ini sulit sekali mendapatkan makanan di Suriah. Jika beruntung mereka bisa makan buah-buahan atau kacang-kacangan, jika tidak, rumput, daun-daunan, dan segelas air pun sudah cukup menghilangkan lapar.

         Hening. Hanya terdengar tiupan angin dan gemersik daun. Tiba-tiba, Bum! Sebuah bom dijatuhkan dari pesawat tempur, memecah keheningan kota Alepo. Umar menjerit ketakutan. Mereka segera berlindung ke dalam Masjid.

         Bum! bangunan Masjid bergetar. Dengungan mesin-mesin tempur di udara bak ribuan lebah yang siap menyerang, semakin lama suaranya semakin keras, memekakkan telinga. Humaira berusaha melindungi Umar dari serpihan-serpihan bangunan Masjid yang mulai rontok. Mereka hanya bisa pasrah.

         Duar! Krak! Sebuah bom mengenai sisi kanan Masjid, Masjid itu runtuh dan menimpa tubuh mungil mereka. Nyeri dan sakit yang amat-sangat, Humaira berusaha bertahan, “Umar..Umar..” suaranya ibarat bisikan yang hilang di telan angin. Sunyi, tak ada jawaban, hanya terdengar rintihan-rintihan dari mulut mungil Umar. Mata Humaira mulai berkunang-kunang, redup semakin meredup dan gelap.



***

        “Humaira, Humaira,” sayup-sayup terdengar suara seseorang memanggil namanya. Ia masih belum sadar sepenuhnya. Tercium olehnya bau anyir darah dan obat antiseptik yang menusuk hidung. Derap-derap langkah kaki mondar-mandir di dalam ruangan diiringi erangan-erangan beberapa orang yang menahan sakit.

        “Humaira..” suara itu kembali memanggilnya. Humaira berusaha membuka matanya sedikit demi sedikit, dilihatnya orang berpakaian putih lalu lalang, pandangannya masih buram. Ia menengok ke kanan beberapa orang merintih kesakitan dengan balutan perban. Lalu ia menoleh ke sumber suara yang memanggil-manggil namanya. Ditatapnya seorang laki-laki paruh baya, berambut tebal dan bertubuh tinggi. Ternyata Ammuh Azzam, ia adalah teman baik ayah Humaira yang bekerja sebagai dokter.

         “Ammuh..”

         “Apa kau sudah sadar, nak?”

         “Ya, hanya saja lenganku sakit sekali.”

         “Tenanglah, jangan banyak bergerak.”

         “Bagaimana dengan Umar, ammuh?”

         “Umar baik-baik saja, hanya saja...”

         Ucapan Ammuh Azzam terhenti seraya menatap Humaira dengan tatapan iba.

         “Kuatkan hatimu nak..”

         “Ada apa ammuh?”

        “Adikmu harus diamputasi kaki kirinya, karena terkena serpihan bom.”

        Humaira terdiam, ada setitik bening di sudut matanya. Menahan perihnya luka hati, mengingat kondisi Umar yang kelak hanya memiliki satu kaki. Selama beberapa hari ke depan mereka harus menginap di rumah sakit, sampai semua luka-lukanya pulih kembali.



***

Seminggu kemudian

        “Ammuh, apa kami sudah boleh keluar dari rumah sakit?” tanya Humaira kepada Ammuh Azzam yang setiap pagi selalu rutin mengunjungi Umar dan Humaira.

        “Sudah bisa, di mana ibumu?” tanya Ammuh Azzam,” Pihak rumah sakit akan menghubunginya agar menjemput kalian.”

        “Ibu...sudah meninggal ammuh..” jawab Humaira, “ Sebulan yang lalu, ibu ditembak sniper saat pergi ke pasar.”

        “Sedangkan ayah...aku tidak tahu bagaimana nasibnya, sudah enam bulan lebih ayah tidak pulang ke rumah,” ada gurat kecemasan di wajah tirus Humaira.

        Ayah Humaira memang jarang pulang ke rumah, sejak peperangan meletus dua tahun yang lalu. Beberapa kali Humaira memergoki ayahnya membawa pulang lempengan-lempengan besi bekas tanki, cakram rem mobil, dan benda-benda rongsokan lainnya. Ia bekerja semalaman di bengkelnya. Ayah Humaira, seorang teknisi. Namun Humaira tak tahu secara pasti apa yang dikerjakan ayahnya malam itu.

       “Humaira, ayahmu masih hidup. Bergembiralah!” ucap Ammuh Azzam berusaha menghibur.

       “Benarkah, Ammuh?”

       “Ya, saat ini ia ada di tempat yang aman.”

       “Ammuh, tolong sampaikan padanya, kami sangat merindukannya...”

       “Insya Allah..” ucap Ammuh Azzam sambil mengangguk, “ Sekarang kemana kalian akan pergi?”

      “Entahlah Ammuh, rumah kami tak lagi aman. Beberapa waktu lalu beberapa orang berpakaian militer mendobrak masuk ke dalam rumah.”

      “Tinggallah di pengungsian, di sana lebih aman. Aku akan mengantarkan kalian ke pengungsian yang terdekat dengan Alepo, di Mandjeb.”

      “Baiklah ammuh..”

      Ammuh Azzam dan Humaira menggandeng Umar yang masih tampak canggung dengan kedua tongkatnya, kaki kecilnya tertatih-tatih. Mereka bertiga meninggalkan rumah sakit menuju ke Mandjeb.

Mandjeb, 20 November 2013

            Suriah memasuki musim dingin di bulan November, salju tebal dengan suhu di bawah 1 derajat celcius melanda seluruh penjuru Suriah, termasuk kamp pengungsian di wilayah Mandjeb. Tenda-tenda pengungsian di Mandjeb tak mampu menghadang dinginnya salju disertai angin musim dingin, tidak ada pemanas listrik karena di pengungsian tidak ada aliran listrik. Tidak semua pengungsi mendapatkan selimut tebal, sebagian mereka terpaksa menghangatkan tubuh menggunakan kain seadanya.

            Humaira duduk berdempet-dempetan dengan Umar untuk menghangatkan tubuh mereka, gigi mereka bergemeletuk dan tangan-tangannya pucat menahan dingin. Siang itu para relawan membawa kabar gembira, ada bantuan datang berupa selimut tebal. Anak-anak dan lansia mendapat prioritas lebih dulu untuk mendapatkan selimut tersebut. Tiba-tiba terdengar suara seorang relawan dari luar tenda.

            “Assalamualaikum, kami membawa beberapa lembar selimut. Adakah yang membutuhkan?”

Ammah Zubaidah keluar dari tenda mereka dan membagikan selimut-selimut tersebut kepada para penghuni tenda, satu tenda di pengungsian bisa di huni empat keluarga. Bagi Humaira dan Umar, Ammah Zubaidah sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Ammah Zubaidahlah yang mengurus segala keperluan mereka selama di pengungsian.

             Hari demi hari di pengungsian di isi dengan aktivitas bermain, mereka menggambar dan mendengarkan dongeng dari para relawan. Itulah satu-satunya hiburan bagi mereka di tengah ganasnya peperangan. Ada seorang relawan dari Indonesia yang sangat disukai Umar, Ammuh Usman, demikian Umar biasa memanggilnya.

Di malam hari Umar biasa menyelinap ke tenda para relawan hanya untuk mendengarkan dongeng sebelum tidur dari Ammuh Usman. Mungkin Umar hanya rindu dengan ayahnya, ia memang terbiasa mendengarkan dongeng menjelang tidur dari ayahnya.

              “Ya Ammuh, ceritakan kepadaku dongeng yang lainnya,” pinta Umar seraya meletakkan tongkatnya dan duduk di samping Ammuh Usman yang sedang menuntaskan tilawah Al-qur’annya. Ammuh Usman merangkulnya dan mulai bercerita di tengah kelap-kelip lilin kecil. Hingga Umar tertidur.



***



Mandjeb, 29 November 2013

             Anak-anak bermain salju di depan tenda-tenda pengungsian, hari ini sedikit bersahabat. Matahari sedang bermurah hati membagikan cahayanya. Humaira dan Umar terbiasa bermain bersama anak-anak pengungsi yang lain. Terkadang mereka saling menimpuk dengan bola-bola salju.

            Tiba-tiba, Ammuh Usman memanggil Humaira dan Umar. Di sampingnya berdiri dua orang laki-laki, yaitu Ammuh Azzam dan seorang laki-laki dengan kaca matanya dan kulitnya yang putih.

            Humaira terperanjat,“Itu Ayah!” pekiknya kepada Umar. Humaira berlari berhamburan menuju ke pelukan Ammar, ayahnya. Sementara Umar tergopoh-gopoh mengayunkan tongkatnya di belakang Humaira. Rasanya seperti mimpi, Ammar memeluk anak-anaknya dan menangis hingga basahlah jenggotnya.

            Malam itu Ammar tidur di tenda pengungsian, mereka melepas rindu yang lama terpendam. Umar tertidur di pangkuan ayahnya, sangat pulas. Sementara Humaira lebih senang berbincang-bincang dengan ayahnya.

           “Ayah, ke mana saja Ayah selama ini?”

Ammar hanya tersenyum, sembari membelai lembut rambut Humaira. Lama ia menatap putrinya yang mulai beranjak dewasa. Mirip sekali ia dengan ibunya, Sarah.

          “Humaira, jagalah Umar. Ia anak yang halus hatinya.”

          “Aku akan menjaganya ayah...hanya dia dan ayah yang aku miliki.”

Ammar merogoh saku bajunya yang sudah kusam. Ia mengambil secarik kertas lecek dan menyerahkannya kepada Humaira.

          “Ini alamat Amirah, bibimu.” Ucap Ammar diselingi tiupan angin malam,” Saat ini ia tinggal di Yordania.”

          “Kalian pergilah ke sana,”Ammar memeluk erat Humaira seakan-akan itulah pertemuannya yang terakhir,”Esok  Ammuh Usman akan pulang ke negaranya. Ia akan melewati pintu perbatasan dengan Yordania.”

Humaira mendengarkan dengan seksama.

           “Ayah sudah memintanya untuk mengantarkan kalian ke tempat Ammah Amirah.”

          “Bukankah Ayah ikut dengan kami?”

          “Tidak, putriku. Masih ada yang harus Ayah lakukan di sini.”

          Humaira  mengatupkan bibirnya, bergetar. Air matanya bercucuran deras bak anak sungai, seakan-akan belum hilang kerinduan pada ayahnya. Esok hari ia harus berpisah kembali.



***

          Pagi itu Humaira dan Umar sudah bersiap untuk pergi ke Yordania. Umar memeluk erat-erat ayahnya seraya menangis terisak-isak. Mereka segera menaiki jeep para relawan.

          Dari kejauhan Umar melihat Ammar melambaikan tangan semakin lama semakin kecil. Tiba-tiba terdengarlah desingan peluru bersahutan-sahutan seperti suara petasan, di selingi pekikkan takbir membahana dari mulut Ammar. Ia terjerembab jatuh ke tanah. Ia tertembak tepat di lehernya. Merah darahnya mewarnai putihnya salju. Umar terkesiap menatap Humaira dengan kesedihan yang mendalam, “Ada sniper... Ayah..”

          Humaira hanya bisa memeluk dan membelai rambut pirang Umar, ia berbisik, “Inilah yang sudah dinantikan ayah dari dulu Umar... inilah alasan kenapa ayah tetap bertahan di Suriah...kuatkanlah hatimu.” Setetes demi setetes bening jatuh membasahi baju lusuh Humaira.

          Mobil jeep itu melaju dengan kecepatan penuh menuju pintu perbatasan dengan Yordania. Menghilang bersama angin musim dingin.

(Tulisan ini telah dimuat di www.dakwatuna.com)

sumber gambar: Internet

Memoar Serambi Mekah

      Masjid Baiturrahman, di Kota Banda Aceh masih berdiri anggun dan kokoh. Aku memandangnya dari lantai dua gedung Museum Tsunami, dari balik jendela kaca besar yang berkilau ditimpa cahaya matahari. Dulu, sembilan tahun yang lalu, halaman masjid itu dipenuhi puing-puing runtuhan bangunan, dan jasad-jasad tak bernyawa tumpuk-menumpuk seperti timbunan sampah.

     Aku tercenung. Sendirian. Bayangan-bayangan masa lalu meninggalkan jejak kelam, semuanya terekam dengan jelas dan kembali berputar membangunkan memori yang lama terkubur.

     ‘Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.’ Peristiwa itu sangat dahsyat, bahkan aku mengira hari itu adalah hari kiamat. Pikiranku melayang-layang di udara, terbang ke sana ke mari.

***

Ulee Lhue, 26 Desember 2004

     Dalam balutan baju koko putih aku terus mempersiapkan diri, menghafalkan kalimat ijab kabul. Ratri cantik sekali, ia mengenakan baju gamis putih. Wajahnya putih bersinar meskipun dengan riasan seadanya. Pak penghulu, wali dan dua orang saksi telah siap melaksanakan prosesi ijab kabul. Tangan ayah Ratri mejabat tanganku erat, ia menatap dalam-dalam. Keringat dingin mengucur di kening, rasanya grogi. Persendianku seperti mau lepas.

     “Saya terima nikahnya Ratri Hasanah binti Yusuf...” belum selesai kalimat itu kuucapkan, tiba-tiba bumi Aceh berguncang dahsyat. Rumah panggung kayu itu berderit kencang, piring-piring berjatuhan dan serpihan kayu mulai rontok. Semua berteriak, menangis, bertakbir dan menjerit. Suasana akad nikah yang syahdu berubah menjadi hiruk pikuk.

     Aku terhuyung-huyung, berjalan tak tentu arah seperti orang yang sedang mabuk. Semuanya berdesakan di pintu rumah, ingin menyelamatkan diri sebelum rumah itu roboh.

     “Semuanya cepat keluar!” Teriakku. Satu persatu anggota keluarga dan tamu undangan berhasil diselamatkan.

      “Bagaimana ini gempa, apa mau dilanjutkan?” tanya seorang kerabat.

Aku melirik ke arah calon mertua dengan tatapan penuh harap agar prosesi akad nikah itu tetap dilanjutkan.

      Sepertinya calon mertua memahami makna tatapanku, “Sudah kepalang tanggung kita lanjutkan saja.”

Pernikahanku hanya disaksikan sedikit orang, sebagian tamu undangan memilih pulang. Seluruh keluarga dan para undangan duduk beralaskan tanah, diantara rimbunnya pohon kelapa yang tumbuh di pesisir pantai Ulee Lhue. Lagi, ayah Ratri menjabat erat tanganku.

      Aku menarik nafas panjang, “Saya terima nikahnya Ratri Hasanah binti Yusuf dengan mas kawin seperangkat alat shalat tunai.” Pak penghulu berucap hamdalah, Ratri sudah resmi menjadi istriku. Keluarga dan para undangan mengucapkan selamat.

      Beberapa menit kemudian, lamat-lamat kudengar orang-orang berteriak kegirangan melihat ikan-ikan bergelimpangan, “Air laut surut, banyak kali ikannya!” Mereka berlomba-lomba menangkapi ikan yang menggelepar-gelepar. Firasatku berkata lain, ‘Air laut surut, ini pertanda tidak baik. Tsunami.’

     Aku berteriak-teriak dari kejauhan, “Jangan ke pantai!” Namun apa daya suaraku tak mampu menjangkaunya. Hilang ditelan angin.

      “Memangnya ada apa, Faris?” tanya ibuku.

      Aku tak sempat menjawab pertanyaannya, “Ayo kita semua pergi dari sini, carilah tempat yang lebih tinggi!” Seketika semuanya menjadi panik.

       Mobil-mobil bak terbuka sudah dipenuhi orang, semuanya memaksakan diri untuk menaikinya. Sempit, berhimpitan. Tak ada tempat yang tersisa untukku. Ayah, ibu, istri dan mertuaku sudah berada di atasnya.

      Kupandangi Ratri, dan mengecup keningnya, “Pergilah ke tempat yang aman, jangan khawatirkan abang.” Ada gurat cemas di wajahnya.

       Ibu berkali-kali berpesan, “Faris, apapun yang terjadi janganlah mati kecuali dalam keadaan islam.” Bulir-bulir bening membasahi pipinya yang keriput.

       “Tenanglah Ma, inshaAllah Faris baik-baik saja.” Aku berlari ke arah Juki, motor tua itu setia menunggu di halaman rumah panggung yang miring akibat gempa.

        Brem! Brem! Aku memacu Juki secepat kilat. Nging! Nging! Suara itu berdenging semakin keras, seperti suara pesawat terbang yang mendekat. Aku menoleh ke belakang, dari kejauhan terdengar teriakan-teriakan ketakutan. Suara tawa anak-anak berubah menjadi tangisan pilu.

        Nging! Nging! Suara itu semakin dekat memekakkan telinga. “Ada apa ini?” Batinku. Aku terus menambah kecepatan, Juki mulai berkerikit. Lagi, aku menoleh ke belakang. Tiba-tiba, air hitam bercampur pasir dan puing-puing bangunan mulai melahap pohon kelapa yang ada di depannya. “Allahuakbar!” Aku berteriak, bayang-bayang kematian ada di benakku.

        ‘Ayolah Juki, jangan menyerah!’ Motor butut itu mulai terengah-engah. Air bah raksasa itu semakin mendekat. Byur! Aku ditelan olehnya, melayang-layang diantara timbunan sampah rongsokan. Dadaku sakit sekali, akibat menelan air bercampur pasir. Ujung-ujung kayu yang patah menyayat tubuhku. Perih.

        Dalam kegelapan dan pekatnya gulungan ombak tsunami, aku memohon pada-Nya,“Jika memang ini saatnya hamba mati...matikanlah dalam keadaan husnul khatimah.” Pasrah. Tiba-tiba, aku menabrak sebuah dinding. Timbul, tenggelam. Sekilas kulihat ada seutas tali menjuntai dari atap rumah yang dindingnya masih berdiri kuat.

        Dengan tenaga yang tersisa aku berusaha menggapainya. Hap! Berhasil, dengan tubuh dipenuhi luka aku memanjat ke atap rumah. Dan terduduk lemas di atasnya, rasanya tak kuat lagi. Kutumpahkan rasa syukur itu dalam sujud panjang berurai air mata. Kupandangi sekeliling, air tsunami itu masih melampiaskan murkanya. Ia menyeret apa saja yang ada dihadapannya, sepintas kudengar sayup-sayup suara meminta tolong.

       “Tolong! Tolong!” Seorang kakek tua bergelantungan di batang pohon yang patah. Terseret arus. Aku berusaha meleparkan tali itu padanya, ia berhasil menggapainya. Namun nahas, tali itu terputus. Ia terus menjauh dan menghilang.

        Waktu terus berjalan, aku terjebak di atas atap. Matahari telah tenggelam berganti selimut malam. Aceh saat itu, gelap gulita di malam hari, tidak ada seberkas cahaya sedikitpun. Dinginnya angin malam menusuk tulangku. Malam itu aku bermalam di atas atap rumah bersama dengan beberapa jenazah yang tersangkut di pinggir-pinggirnya, tak ada lagi rasa takut di hatiku.

***

        Fajar menyingsing, di bawah kaki langit biru. Aku mulai menelusuri bumi tempat berpijak dengan mata nanar. Ini benar-benar pemandangan yang mengerikan. Semuanya rata dengan tanah, tak ada sehelai ilalangpun berdiri tegak. Krak! Aku tidak sengaja menginjak jenazah yang tertutup triplek. Bau anyir jenazah bercampur lumpur, menyengat hidung.

        Sudah tiga hari aku berjalan tak tentu arah. Sepertinya terjangan tsunami membawaku hingga beberapa kilometer dari Ulee Lhue. Tak ada satupun manusia hidup yang kutemui. Lapar. Aku mengais-ngais timbunan sampah, berharap ada makanan untuk mengganjal perut. Sebungkus mie instan terselip di balik serpihan kaca, aku mengunyahnya tanpa dimasak. Dari kejauhan kulihat tanda-tanda kehidupan. Tiga orang laki-laki datang berbaris sambil menggotong kantong mayat.

      Aku berteriak seraya melambaikan tangan, “Tolong! Di sini ada orang!” Satu kali panggilan tidak terdengar.

      “Tolong!” Salah satu dari mereka menoleh ke arahku.

      “Di sana ada yang hidup!” Pekiknya kepada teman yang lain. Mereka menghampiriku, lega rasanya.

       Aku terus mengikuti mereka mengevakuasi mayat, ada seorang anak kecil berusia dua tahun. Ia tidak beranjak dari samping jenazah lelaki paruh baya, aku terus memperhatikannya. Iba. Ia membelai lembut rambut jenazah, “Ayah, bangun! Bobonya jangan lama-lama...” Mataku berkaca-kaca sambil memalingkan wajah,    menyembunyikan tangis.

       “Hari ini sudah cukup, kita kembali ke posko!” Lelaki bertubuh tegap itu membawa jenazah tersebut. Anak kecil itu terus menggenggam tangan ayahnya yang dingin dan kaku.

      “Kemana kita akan pergi?” tanyaku pada salah satu dari mereka.

      “Kita akan ke posko pengungsian di desa Lampisang.”
Setelah sehari bermalam di pengungsian, aku mulai mencari jejak-jejak keluarga yang mungkin masih tersisa. Berbekal sepeda milik seorang pengungsi, dimulailah pencarian itu. Kukayuh sepeda itu ke daerah Lhoknga, rumahku hanya tersisa dinding dapurnya. Semua kenangan masa kecil, runtuh bersama rumah itu. Aku mendekat, ada goresan merah di dinding. Syaiful masih hidup, posko Masjid Lampenerut. “Pak Wa Syaiful masih hidup!” Batinku menjerit kegirangan.

     Segera kunaiki sepeda itu, menuju Masjid Lampenerut. Harap-harap cemas menyelimuti hatiku, semoga ayah, ibu, mertua, dan istri masih hidup. Senja menjelang, keringat sebesar jagung membasahi tubuhku. Masjid Lampenerut dipenuhi pengungsi, aku menghampiri seorang relawan dan bertanya perihal pak wa Syaiful.

     Pak wa Syaiful memelukku. Erat. Ia menangis kencang, aku terharu tak sanggup membendung air mata yang deras mengalir.

     “Pak Wa ke mana yang lainnya? ke mana ayah, ibu, mertua, dan istriku?” tanyaku penuh harap.

     Pak wa Syaiful terbata-bata, “Pak wa tidak tahu di mana keluarga yang lain, Faris. Saat itu situasinya kacau balau, jalan-jalan macet dipenuhi mobil dan motor. Semuanya panik ingin menyelamatkan diri, kami semua memutuskan untuk turun dari mobil bak terbuka dan berjalan kaki. Tiba-tiba air tsunami menelan kami, kami terpisah. Alhamdulillah ada seseorang yang menolong pak wa, saat terseret arus.”

    “Apa tidak ada kabar sama sekali, Pak Wa ?”

    Pak Wa Syaiful menggelengkan kepala, “Sudah sejak kemarin pak wa mencari keluarga kita, sudah tiga posko pengungsian yang pak wa kunjungi, tak ada petunjuk.”

    Akhirnya aku dan Pak Wa Syaiful berbagi tugas untuk mengunjungi titik-titik pengungsian dan rumah sakit yang belum dikunjungi. Berharap ada keluarga lain yang masih hidup. Sembari terus mencari jejak keluarga, aku membantu relawan untuk mengevakuasi jenazah-jenazah.

     Hingga pada hari kelima setelah tragedi tsunami aku belum menemukan petunjuk sedikit pun tentang kondisi keluargaku, rasanya putus asa. Di tengah kegundahan yang amat sangat aku memohon pada-Nya agar dipertemukan dengan keluarga yang lain, baik dalam keadaan hidup atau meninggal. Jika sudah meninggal aku berharap dapat melihat jenazahnya untuk terakhir kali.

     Pada hari ketujuh masa pencarian, para relawan di posko tempat aku mengungsi dibuat takjub karena menemukan jenazah yang tidak biasa. Mereka menemukan jenazah seorang wanita dengan jilbab ungu, seusia ibuku. Mereka takjub karena aurat jenazah itu tertutup rapat mulai dari kaus kaki hingga jilbab, sementara jenazah-jenazah lain banyak yang terlepas pakaiannya karena hantaman tsunami yang yang sangat kencang.

     Aku terdorong untuk melihat jenazah itu, ibuku terakhir kali mengenakan jilbab dan gamis ungu. Aku dekati kantong jenazah berwarna kuning yang tertutup rapat, hatiku berdebar-debar. Dengan tangan gemetar aku membukanya, tangisanku pecah saat itu juga. Benar jenazah itu, ibuku. Aku membuka kantong-kantong jenazah yang lainnya, mungkin ada keluarga yang lain. Firasatku benar, ayah kandung dan ibu mertuaku juga sudah meninggal.

     Menurut cerita relawan yang menemukannya, jenazah ayah dan ibu ditemukan di satu lokasi, di bawah puing-puing bangunan. Sementara jenazah ibu mertuaku ditemukan tersangkut di pohon. Keluargaku yang sudah meninggal dikuburkan di kuburan massal, Pocut Baren. Pencarian masih terus berlanjut, aku mencari istri dan ayah mertua.

     Aku dan Pak Wa Syaiful berkeliling ke rumah sakit-rumah sakit. Hari itu sudah empat rumah sakit yang dikunjungi, tak ada petunjuk. Hampir saja aku menyerah, namun Pak Wa Syaiful berhasil merubah pikiranku. Akhirnya aku dan Pak Wa Syaiful memutuskan untuk mengunjungi satu rumah sakit lagi, yaitu RS Fath. Rumah sakit itu dipenuhi pasien, pasien luka dirawat di koridor rumah sakit, semua ruangan sudah penuh.

     Aku bertanya kepada petugas rumah sakit, “Adakah pasien bernama Ratri Hasanah dan Yusuf Harun?”

     Ia mulai membuka buku catatan pasien, “Ada hanya pasien bernama Ratri Hasanah, di ruangan nomor 34.”

     Kubuka pintu itu, ayah mertua duduk di sisi Ratri. Ia menyambut dan merangkulku, ada embun di matanya. Ratri terus bergumam, ia tak sadarkan diri. Perlahan kudekatkan wajahku ke wajahnya, ternyata ia menggumamkan ayat-ayat al-qur’an. Ia melantunkan sebuah ayat. Ini bacaan al-qur’an terindah yang pernah kudengar. Kuresapi maknanya di relung-relung hati terdalam. ‘Tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.’ Air mataku jatuh, membasahi pipi Ratri.

     Tiba-tiba, seorang dokter menghampiri ayah mertua, mereka berbincang-bincang sejenak di luar ruangan. Aku mengitipnya dari balik pintu, ayah mertua terduduk menutup kedua wajahnya. Tubuh ringkihnya berguncang-guncang menahan kesedihan.

***

     “Abi,” tangan mungil itu menggamit tanganku, memecah lamunan. Senyumnya yang ceria menghibur hati.

     “Ayo kita pulang, Bi. Ummi sudah menunggu.” Ia menyeretku menuruni tangga ke lantai satu. Ratri duduk di atas kursi roda, Nabila, putriku membantu mendorong kursi roda.

     Masih terngiang-ngiang di telinga, vonis dokter sembilan tahun yang lalu, “Cedera hebat yang dialami Ratri merusak syarafnya, kemungkinan ia mengalami kelumpuhan permanen dari bagian pinggang sampai kakinya. Ia tidak akan bisa berjalan, kecuali jika Allah SWT berkehendak lain.”

     Kutatap matanya yang bening. Seulas senyum menghiasi bibir merah Ratri. Menatap cerahnya masa depan. Aku berjalan gontai, di bawah kaki langit biru Kota Banda Aceh.


(Cerpen ini telah dimuat di www.dakwatuna.com)

 Gambar: internet





Focus Private

Les Privat

Les Privat Focus Private adalah lembaga pendidikan yang mengkhususkan diri sebagai spesialis les privat guru ke rumah untuk mata pelajaran eksakta yaitu Matematika, Fisika, dan Kimia. Info 082312091982
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Total Tayangan Halaman